​State: an introduction (Bahasa Indonesia)

Sebuah penjelasan menurut kami dari libcom.org terhadap negara (state) dan bagaimana pentingnya  hubungannya dengan para pekerja.
Negara memiliki banyak bentuk dan ukuran. Demokrasi dan kediktatoran,ada yang menyediakan kesejahteraan sosial, ada yang tidak sama sekali, beberapa mengijinkan banyak kemerdekaan individu, namun lainnya tidak.

Tetapi kategori-kategori ini tidaklah selamanya. Demokrasi dan kediktatoran bangkit dan runtuh, sistem kesejahteraan (welfare) bisa dipasang dan dicabut, kebebasan sipil pun bisa berkembang dan juga bisa dikekang.

Bagaimanapun, seluruh negara menunjukkan fitur-fitur kunci yang menjelaskan secara keseluruhan.

Apa itu negara?

Seluruh negara memiliki dasar fungsi yang sama, yaitu mereka adalah sebuah organisasi yang membuat hukum juga menegakkannya dalam sebuah teritori tertentu. Dan yang paling penting, negara adalah organisasi yang dikendalikan dan dijalankan oleh segelintir orang.

Jadi terkadang, sebuah negara terdiri dari perwakilan/parlemen yang diisi oleh politikus terpilih, sistem pengadilan yang terpisah dan kekuatan militer dan polisi untuk menegaskan kebijakan mereka. Kadang juga, semua aparat ini bergantian berkuasa satu sama lain, seperti kediktatoran militer misalnya.

Tetapi kekuasaan untuk untuk membuat kebijakan politik dan legal – yang seringkali menggunakan kekerasan untuk menegakkannya bila perlu – adalah karakter asli seluruh negara. Namun yang paling penting, negara mengklaim memonopoli legitimasi penggunaan kekerasan di dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, negara berada di atas masyarakat yang diperintahnya khususnya masyarakat yang berada di dalam teritori mereka.

Negara dan Kapitalisme

Dalam masyarakat kapitalis, kesuksesan maupun kegagalan negara tergantung pada kesuksesan kapitalisme di dalamnya.

Intinya, ini artinya bila di dalam negeri (teritori) menghasilkan profit/keuntungan maka ekonomi akan berkembang. Jadi pemerintah akan mengambil pajak untuk membiayai aktivitas pemerintah.

Bila bisnis dalam suatu negeri membuat keuntungan yang menggiurkan, investasi akan membanjiri industri yang menguntungkan, perusahaan-perusahaan akan mempekerjakan banyak orang untuk mengembangkan investasi mereka untuk mendatangkan uang lebih banyak. Mereka dan para pekerja mereka akan membayar pajak agar negara tetap bekerja.

Namun bila profit turun drastis, investasi akan mengalir ke daerah dimana keuntungan akan menjadi lebih besar. Perusahaan-perusahaan akan bangkrut dan ditutup, para pekerja akan di-PHK, hasil pajak akan turun dan ekonomi dalam negeri akan jatuh.

Jadi mempromosikan keuntungan dan pertumbuhan ekonomi adalah tugas utama seluruh negara dalam masyarakat kapitalis – termasuk negara dengan ekonomi kapitalis yang mengklaim diri “sosialis”, seperti China atau Kuba.

Ekonomi Negara

Karena mempromosikan ekonomi adalah tugas utama dari negara, mari kita lihat tiang-tiang fundamental dari ekonomi kapitalis yang sehat.

Pekerja

Kebutuhan utama ekonomi kapitalis adalah keberadaan kelompok yang terampil bekerja, untuk membuat uang kapitalis menjadi lebih banyak uang lagi: yaitu kelas pekerja. Hal ini mengharuskan mayoritas populasi terbuang dari tanah mereka dan alat bertahan hidup mereka, jadi satu-satunya jalan bagi mereka untuk bertahan hidup adalah dengan menjual tenaga mereka untuk bekerja kepada mereka yang bisa membelinya.

Proses pencerabutan ini (terhadap tanah) telah berlangsung selama berabad-abad terakhir di seluruh penjuru dunia. Dalam masa-masa awal kapitalisme, para pemilik pabrik memiliki masalah besar dengan membuat para petani pergi bekerja ke pabrik-pabrik, karena petani selama ini hidup berkecukupan dari tanah yang mereka produksi/tanami. Untuk menyelesaikan masalah ini, negara menggunakan kekerasan untuk memaksa petani pergi dari tanah Komunal mereka, membuat hukum-hukum yang melarang gelandangan dan memaksa mereka untuk bekerja di pabrik-pabrik dalam ancaman eksekusi.

Hari ini, usaha ini terjadi pada sebagian besar masyarakat di seluruh penjuru dunia. Bagaimanapun, di beberapa tempat yang sering disebut “negara berkembang” (dunia ketiga), negara masih memainkan peran ini untuk memindahkan masyarakat untuk membuka pasar bagi investor

Properti

Kebutuhan pokok yang kedua adalah konsep kepemilikan pribadi terhadap properti. Seiring banyaknya orang untuk dicerabut dari tanahnya untuk membentuk kelas pekerja, kepemilikan tanah, bangunan dan pabrik dimiliki oleh minoritas dari populasi hanya bisa dijaga oleh organisasi kekerasan yaitu negara. Hal ini sangat jarang disebutkan oleh para pembela kapitalisme hari ini, bagaimanapun awalnya sudah menjadi rahasia umum. Seperti ucapan politik-ekonomis liberal Adam Smith:

Hukum dan pemerintah bisa disamakan pada hal ini dan termasuk setiap kasus orang-orang kaya bermacam-macam menindas orang miskin, dan membiarkan ketidaksetaraan mereka atas kekayaan yang mana bagi mereka (ketidaksetaraan tersebut) akan hancur sendiri dengan menyerang masyarakat miskin, yang tidak dihalangi oleh pemerintah yang mana akan menghabisi lainnya agar kesetaraan untuk mereka dengan menggunakan kekerasan terbuka.”

(Laws and government may be considered in this and indeed in every case as a combination of the rich to oppress the poor, and preserve to themselves the inequality of the goods which would otherwise be soon destroyed by the attacks of the poor, who if not hindered by the government would soon reduce the others to an equality with themselves by open violence.)

Hal ini berlangsung sampai hari ini, keputusan hukum hanya fokus melindungi properti daripada masyarakat. Contohnya, tidaklah ilegal bila para spekulan menguasai pemasokan (supplies) makanan, membuat pasokan berkurang sehingga harga-harga kebutuhan menjadi naik sementara masyarakat sangat kelaparan, namun sangat ilegal bagi orang-orang lapar untuk mencuri makanan.

Apa yang Negara Lakukan?

Negara yang berbeda juga punya tugas yang berbeda pula, menyediakan makan siang gratis di sekolah sampai menegegakkan agama konservatif (macam syari’at agama). Namun seperti yang disebutkan sebelumnya di atas, fungsi utama seluruh negara dalam masyarakat kapitalis adalah melindungi dan mempromosikan ekonomi maupun membuat keuntungan.

Bagaimanapun, sebagaimana bisnis selalu dalam berkompetisi satu sama lain, mereka hanya sangat tertarik pada kelangsungan bisnis mereka sendiri yang kadangkala melukai ekonomi lainnya. Karena itulah negara kadang harus menjaga ketertiban ekonomi secara luas dalam jangka panjang.

Jadi negara mendidik dan melatih kekuatan kerja masa depan dalam negeri mereka dan membangun infrastruktur (jalan raya, sistem transportasi umum, dll) untuk membuat kita pergi bekerja dan mudah mendapatkan kebutuhan pokok (seperti sembako). Negara kadang juga melindungi bisnis nasional dari persaingan internasional dengan mengambil kekayaan mereka ketika mereka datang ke negerinya  atau mengembangkan pasar mereka di dunia dengan cara perang maupun diplomasi dengan negara lain. Di lain waktu, mereka menghentikan pajak sementara dan mensubsidi industri, dan kadang juga memberikan bantuan (bail out) bila industri tersebut terlalu penting untuk jatuh dalam kebangkrutan.

Tindakan-tindakan tersebut kadang bertentangan dengan keinginan bisnis individu atau industri. Bagaimanapun, ini takkan merubah kenyataan bahwa negara mementingkan ekonomi dalam lingkup besar.  Namun pada dasarnya langkah ini diambil sebagai jalan untuk menyelesaikan perselisihan antara para kapitalis yang berbeda.

Negara Kesejahteraan

Beberapa negara juga menyediakan banyak pelayanan publik untuk melindungi efek negatif dari ekonomi. Bagaimanapun, ini sangat jarang sekali, meskipun ada, hasil dari kemurahan hati para politikus ketika mendapat tekanan dari masyarakat.

Singkatnya, setelah Perang Dunia 2, Inggris membangun negara kesejahteraan, menyediakan layanan kesehatan, layanan rumah, dll kepada mereka yang membutuhkan. Bagaimanapun, mereka melakukan ini karena ketakutan para politikus melihat sejarah seringkali revolusi tiba setelah perang seperti yang terjadi pada Perang Dunia 1 mengakibatkan revolusi terjadi di Rusia maupun Jerman, juga peristiwa Biennio Rosso di Italia, pemberontakan tentara Inggris dll.

Ketakutan ini direspon. Saat akhir perang, kemarahan diantara kelas pekerja untuk memusuhi negara semakin naik. Para tunawisma menghasut tentara untuk merebut bangunan kosong ketika mogok dan kerusuhan sedang berlangsung. Anggota parlemen dari partai Tory MP menyimpulkan suasana hati para politikus di 1943, berkata ” bila kita tidak memberikan mereka suatu reformasi, maka mereka akan memberikan kita sebuah revolusi. ”

Ini bukan berarti reformasi adalah sebuah ‘kontra-revolusioner’. Artinya negara bukanlah mesin dari reformasi; namun kita, kelas pekerja – dan secara spesifik adalah hasil perjuangan kita.

Ketika perjuangan kita sampailah pada posisi dimana mereka tak bisa menghindar dan merepresi kita lagi, negara memberikan reformasi. Kita pada akhirnya menghabiskan 100 tahun berikutnya mendengar orang-orang terus-menerus menjadi seorang ‘tokoh reformasi besar’ yang mana saja, meskipun toh itu adalah hasil perjuangan kita memaksakan reformasi kepada mereka.

Ketika sebagai sebuah kelas pekerja kita terorganisir dan militan, perubahan sosial akan tiba. Tetapi bila militansi kita ditekan dan memudar, keuntungan kita juga direnggut. Pelayanan publik akan dipotong dan ditutup sedikit demi sedikit, kenyamanan akan kesejahteraan akan dikurangi, biaya untuk pelayanan akan diperkenalkan atau malah ditambah dan upah-upah akan dipotong.

Dengan demikian, banyaknya kesejahteraan dan layanan gratis bagi umum disediakan kepada kelas pekerja pada dasarnya menandakan keseimbangan kekuatan antara para bos dan pekerja. Contohnya kelas pekerja Perancis memiliki level organisasi dan militansi lebih tinggi dari kelas pekerja Amerika. Dan hasilnya, kelas pekerja Perancis memiliki kondisi kerja yang lebih baik, jam kerja lebih pendek, pensiun lebih dini dan layanan sosial lebih baik (misalnya layanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, dll) – tidak peduli apakah yang berkuasa itu pemerintah sayap kiri maupun kanan.

Negara Pekerja?

Selama beberapa dekade, perjuangan berulang kali di tempat kerja maupun di jalanan, banyak pekerja mencoba memperbaiki kondisi mereka melalui negara.

Metode-metode yang tepat telah berbeda tergantung pada lokasi dan konteks historis tetapi singkatnya ada 2 bentuk: membuat atau mendukung partai politik yang bertarung di pemilu dan bekerja sesuai keinginan pekerja, atau yang lebih radikal memiliki partai yang merebut kekuasaan politik dan membangun pemerintahan pekerja melalui revolusi. Kami akan memeriksa dengan teliti 2 contoh yang menunjukkan kegagalan taktik ini.

Partai Buruh

Partai Buruh di Inggris dibentuk oleh serikat pekerja tahun 1906. Yang kemudian memakai negara agar menjadi masyarakat sosialis. 

Bagaimanapun, menemukan kenyataan yang berada di Parliament (Parlemen/DPR), dan karena itu terlalu menggantungkan pada ekonomi kapitalis yang sehat mereka dengan cepat menghilangkan prinsip-prinsip mereka dan konsisten mendukung kebijakan anti kelas pekerja pada saat oposisi maupun kemudian saat di pemerintahan.

Dari mendukung pembantaian imperialis saat Perang Dunia I, sampai membunuh para pekerja di luar negeri agar bisa menjaga Kerajaan Inggris, juga memperburuk upah pekerja hingga mengirim tentara melawan pelaut yang sedang mogok. 

Ketika kelas pekerja sedang ofensif, Partai Buruh malah menawarkan reformasi seperti partai lain. Tetapi seperti partai lain juga, ketika kelas pekerja mundur maka mereka menghapus reformasi dan mengurangi standar hidup. Contohnya hanya beberapa tahun setelah mengenalkan Layanan Kesehatan untuk Buruh Nasional gratis (the free National Health Service Labour) lalu mereka mengenakan biaya untuk resep, kemudian biaya untuk kacamata dan gigi palsu.

Seperti disebutkan sebelumnya, ini bukanlah karena anggota dan pengurus Partai Buruh (Labour Party) adalah orang-orang jahat tetapi karena pada akhirnya mereka adalah politikus yang berprinsip untuk menjaga ekonomi Inggris tetap kompetitif dalam pasar global.

Partai Bolshevik

Di Rusia pada 1917, ketika para pekerja dan petani bangkit dan merebut pabrik dan tanah mereka, Bolshevik menentangnya dan berencana untuk membangun negara pekerja yang “revolusioner”. Bagaimanapun, negara ini tidak bisa menghapus fungsi utamanya: sebagai pelindung elit yang menggunakan kekerasan, dan mencoba untuk membangun dan mengembangkan ekonomi untuk menjaga dirinya sendiri.

Yang sering disebut “negara pekerja” itu malah berubah melawan kelas pekerja: manajemen satu orang mulai dikembalikan lagi, mogok dijadikan melawan hukum dan bekerja pun secara paksa ditodong senjata. Negara bahkan mengeksekusi pendukungnya yang tak setuju dengan perubahan ini. Tidak lama setelah revolusi, banyak pendukung Bolshevik asli telah dieksekusi pemerintahan, institusi yang mereka dirikan bersama. 

Melawan Negara

Ini bukan berarti masalah kita akan selesai seketika bila kita bubarkan Negara besok. Juga bukan berarti, meskipun Negara terpisah dari dasar konflik jantung masyarakat kapitalis: antara juragan dan pekerja. Bahkan Negara juga termasuk bagiannya dan juga sungguh berada di sisi para juragan.

Kapanpun para pekerja memperjuangkan perubahan dan kondisi kita, kita bukan hanya melawan para juragan tetapi juga Negara yang menggunakan polisi, pengadilan, penjara dan kadang militer untuk menjaga keadaan seperti ini.

Dan ketika pekerja mencoba memanfaatkan Negara, atau bahkan menguasainya untuk mendukung kepentingan kita, mereka telah gagal – karena pada dasarnya Negara adalah lawan dari kelas pekerja. Mereka hanya berhasil mengakui dan memperkuat Negara yang mana berubah melawan mereka.

Hanya kekuatan kolektif dan keinginan kitalah yang mampu mengganggu ekonomi yang memberikan kita kesempatan untuk merubah masyarakat. Ketika kita memaksa Negara untuk reformasi kita tak hanya memenangkan kondisi yang lebih baik. Poin aksi kita adalah membangun masyarakat baru, berdasarkan pada perbedaan prinsip. Sebuah masyarakat dimana hidup kita lebih penting daripada ‘pertumbuhan ekonomi’. Tipe baru masyarakat dimana tidak sebuah minoritas yang menguasai kesejahteraan dimana membutuhkan perlindungan dari orang yang tidak berpunya; itu adalah masyarakat dimana Negara tak dibutuhkan ada.

Negara membutuhkan ekonomi u tuk bertahan hidup dan selalu kembali kepada orang yang mengendalikannya. Tetapi ekonomi dan Negara berdasarkan hasil kerja yang kita lakukan setiap hari, dan memberi kita kekuasaan untuk mengganggu mereka dan nantinya kita bisa melawan mereka dua-duanya.

Informasi lanjut

  1. Private property, exclusion and the state -Junge Linke – Tulisan singkat yang mengusut peranan Negara dalam masyarakat kapitalis.
  2. The state: Its historical role – Peter Kropotkin – tulisan klasik anarkis yang mengusut peran Negara dalam masyarakat.
  3. The state in capitalist society – Ralph Miliband – buku bagus menganalisis sifat Negara dan bagaimana para pekerja tak bisa menggunakannya untuk kepentingannya (sayangnya tidak tersedia online). 
  4. Capital and the state – Gilles Dauvé – analisa libertarian komunis yang lebih detail terhadap Negara.
  5. Marxism, freedom and the state – Mikhail Bakunin -Koleksi tulisan dari anarkis Rusia dengan komentar terhadap Negara yang sayangnya membuktikan benar dan akurat dengan pengalaman Negara revolusi sosialis.
  6. The Bolsheviks and workers’ control -Solidarity – pengusutan yang detail terhadap kebijakan anti kelas pekerjanya Bolshevik dalam masa awal revolusi Rusia. 
  7. Labouring in vain -Subversion – Kritik sejarah terhadap Partai Buruh dari perspektif kelas pekerja.

​Class: an introduction (Bahasa Indonesia)

Sebuah penjelasan menurut kami dari libcom.org terhadap kata “class” (kelas) dan kata-kata lain yang berhubungan seperti “working class” (kelas pekerja) dan “class struggle” (perjuangan kelas).

Pendahuluan

Pertama, bermacam-macam sekali pengertian yang mengacu pada kata class. Seringkali ketika menyebut class, umumnya orang-orang mengartikannya dengan pendekatan budaya/sosiologi. Contohnya, kelas menengah hobi menonton film-film asing, kelas pekerja hobi menonton bola, kelas atas lebih cenderung suka dengan top hats, dll.

Namun class bisa juga diartikan berdasarkan posisi kelas ekonomi seseorang. Dengan mengartikannya demikian, bagi kita sangat penting karena hal itu perlu sekali untuk memahami bagaimana masyarakat kapitalis bekerja dan bagaimana untuk merubahnya.

Penting untuk ditekankan bahwa definisi class bagi kami bukanlah untuk menggolongkan orang-orang, atau menaruh mereka pada kotak yang berbeda, tetapi semata-mata untuk memahami kekuatan apa yang membentuk dunia kita hari ini, mengapa juragan kita dan para politikus partai melakukan hal yang mereka lakukan, dan bagaimana kita mengambil tindakan yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi kita ini.

Class dan Kapitalisme

Sistem ekonomi yang mendominasi dunia kita hari ini adalah kapitalisme.

Intinya, sistem kapitalisme berdasarkan pada “kapital yang mengembangkan dirinya” (self-expansion of capital), uang dan barang jualan (commodity) menghasilkan lebih banyak uang dan lebih banyak lagi barang yang bisa dijual.

Perkembangan ini terjadi bukan dengan sihir, tetapi dengan kerja manusia (labour). Untuk kerja keras yang kita lakukan pada juragan, kita cuma dibayar sedikit dari hasil kerja kita. Perbedaan antara nilai hasil kerja kita dengan jumlah gaji kita yang dibayarkan disebut “surplus nilai” (surplus value) dari hasil kerja keras kita. Surplus nilai tadi ini diambil oleh para juragan kita sebagai keuntungan (profit) atau diinvestasikan kembali (reinvested) atau malah digunakan untuk membeli kolam renang dan mantel berbulu domba, dsb.

Agar semua ini terjadi, orang-orang dalam class tertentu harus diciptakan, sekelompok orang yang tidak memiliki sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk menghasilkan uang, hal-hal seperti perkantoran, pabrik, persawahan, perkebunan, atau alat-alat produksi (means of production) lainnya. Sekelompok orang dalam class ini terpaksa harus menjual tenaga (ability to work) mereka untuk bisa ditukar dengan sembako atau pelayanan publik lainnya supaya mereka bisa bertahan hidup. Class ini disebut kelas pekerja (working class).

Jadi salah satu ujung spektrum dari class ini tidak memiliki apa-apa untuk dijual, dan terpaksa menjual tenaga mereka. Di satu sisi, ada orang-orang yang memiliki capital secara pribadi dan mereka mempekerjakan para pekerja untuk mengembangkan capital mereka. Orang-orang dalam masyarakat ini akan jatuh dalam dua kutub class ini, tapi dalam perspektif politik yang lebih penting bukan posisi seseorang dalam class, tetapi hubungan sosial (social relationship) diantara kelas.

Kelas Pekerja (The Working Class)

Kelas pekerja, atau ‘proletariat’ sebagaimana kadang disebut, yaitu class yang bertahan hidup dengan terpaksa bekerja untuk upah, atau yang sering menuntut layanan sosial bila pengangguran, berpenyakit parah atau terlalu tua untuk bekerja. Kita menjual waktu dan tenaga kita kepada para juragan untuk keuntungan mereka sendiri.

Kerja kita adalah dasar (basis) dari masyarakat ini. Faktanya masyarakat ini bergantung pada kerja-kerja kita, namun di lain pihak selalu memeras keuntungan yang sebesar-besarnya dari kerja-kerja kita, menjadikannya rentan.

Perjuangan Kelas (Class Struggle)

Saat kita bekerja, waktu dan aktivitas kita bukanlah milik kita. Kita terpaksa patuh terhadap alarm pada jam, the rime card, para manajer, deadline dan target.

Kerja merenggut sebagian besar hidup kita. Kita terpaksa lebih sering bertemu para manajer kita daripada bertemu dengan teman-teman kita maupun kekasih. Meskipun bila kita menikmati pekerjaan kita namun kita mengalaminya sebagai hal yang asing, dimana kita memiliki sedikit kendali padanya. Inilah kenyataannya, apakah hal yang kita bicarakan adalah segala tetek bengek soal kerja yang sungguh-sungguh maupun jam kerja, istirahat, libur, dll.

Semakin kita dipaksa bekerja seperti ini, semakin mendorong kita untuk melawan.

Para pemberi kerja (employers) dan para juragan menginginkan kerja kita yang benar-benar maksimal, dengan jam kerja yang panjang namun dibayar sedikit sekali. Kita, di sisi lain, ingin sekali berkesempatan menikmati hidup: kita tak ingin berlebihan dalam bekerja, dan kita ingin jam kerja diperpendek dan upah yang lebih.

Sifat antagonis ini adalah pusat kapitalisme. Diantara dua sisi saling menekan dan tarik-menarik: para pemberi kerja memotong upah, menambah jam kerja, mempercepat kerja. Namun kita berusaha melawan: secara terselubung dan bersifat individual bersantai, mencuri kesempatan untuk beristirahat dan mengobrol dengan sesama pekerja, ijin sakit, pulang lebih awal. Atau kita bisa melawan secara terbuka dan bersama-sama lewat mogok, slow-downs (membuat pekerjaan menjadi lebih lambat), pendudukan, dll.

Ini adalah perjuangan kelas (class struggle). Konflik antara kita yang terpaksa bekerja untuk upah dan para pemberi kerja/juragan dan pemerintah, yang seringkali disebut kelas kapitalis, atau ‘bourgeoisie’ dalam jargon Marxist.

Dengan melawan ketidakadilan dalam kerja, kita bisa bilang hidup kita lebih penting daripada keuntungan juragan kita. Perampasan ini adalah hal alami dari kapitalisme, dimana profit/keuntungan adalah alasan yang paling penting untuk melakukan segala sesuatu, dan menekankan untuk membentuk sebuah dunia tanpa class dan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Kita adalah kelas pekerja yang melawan eksistensi diri kita. Kita adalah kelas pekerja yang berjuang melawan kerja dan class (kelas).

Di luar tempat kerja (Beyond the workplace)

Perjuangan kelas tak hanya bertempat di ruang kerja saja. Konflik class berada di berbagai aspek dalam kehidupan.

Misalnya, harga rumah yang terjangkau adalah sesuatu yang penting bagi semua kelas pekerja. Namun sesuatu yang terjangkau bagi kita bukan sesuatu yang menguntungkan bagi mereka. Dalam ekonomi kapitalis, seringkali membangun perumahan yang mewah lebih berarti daripada membangun rumah yang kita mampu untuk membeli dan tinggal di sana, meskipun puluhan ribu orang-orang tidak memiliki rumah. Jadi perjuangan untuk mempertahankan rumah yang terjangkau (social housing program), atau menduduki bangunan yang kosong untuk ditinggali merupakan bagian dari perjuangan kelas.

Begitu juga penyediaan layanan kesehatan terjangkau, juga bisa menimbulkan konflik kelas. Pemerintah maupun swasta mencoba untuk mengurangi anggaran dana untuk layanan kesehatan dengan memotong anggaran dan menggantinya dengan layanan yang berbayar dan beban biayanya dialihkan dan ditanggung oleh kelas pekerja, meskipun kita menginginkan layanan kesehatan terbaik dengan biaya yang terjangkau sebisa mungkin.

“Kelas Menengah” (The “middle class”)

Meskipun fokus ekonomi para kapitalis berlawanan langsung dengan para pekerja, sebagian kecil kelas pekerja lebih baik nasibnya ketimbang yang lain, bahkan memiliki kekuasaan tertentu terhadap kelas pekerja lain. Dengan mengacu pada sejarah dan perubahan sosial lebih baik menyebut sebagian proletar ini dengan “kelas menengah” untuk lebih memahami perilaku masing-masing grup yang berbeda, meskipun kenyataannya tidaklah ada perbedaan kelas ekonomi.

Perjuangan kelas kadang keluar dari jalur dengan dibiarkannya terbentuknya dan berkembangnya kelas menengah – Margareth Thatcher menggalakkan kepemilikan rumah dengan menjual murah program rumah murah di Inggris (UK) selama perjuangan besar di sana pada 1980an, karena Thatcher tahu para pekerja akan mulai berhenti mogok bila mereka memiliki hipotek juga membuat sebagian pekerja bernasib baik secara individu, daripada secara kolektif. Dan di Afrika Selatan terbentuknya kelas menengah kulit hitam membantu terpecahnya perjuangan pekerja ketika apartheid sedang dihancurkan, dengan memngabulkan mobilitas sosial yang terbatas dan memberi sebagian pekerja kulit hitam kepentingan di dalam sistem.

Para juragan mencoba segala cara untuk memecah kelas pekerja secara fisik maupun mental, termasuk perbedaan upah/gaji, status profesional, ras dan gender.

Perlu kami ingatkan kembali, kami menggunakan definisi kelas seperti ini untuk lebih mudah memahami kekuatan sosial dalam dunia kerja, namun bukan untuk melabeli seseorang maupun memastikan bagaimana seseorang bertindak dalam situasi tertentu.

Kesimpulan

Membicarakan kelas dalam artian politiknya bukanlah soal di titik mana posisi kita namun pada basis konflik yang menjelaskan kapitalisme – sebagian besar kita yang terpaksa bekerja untuk bertahan hidup vis a vis dengan orang-orang yang mengambil profit/keuntungan dari kerja kita. Dengan melawan kediktatoran kapital dan pasar (market) demi keinginan dan kebutuhan kita membawa basis dari masyarakat dunia baru – masyarakat yang berdasarkan pemenuhan langsung terhadap kebutuhan kita: masyarakat libertarian komunis.

Informasi lanjut

  1. Work Community Politics War – prole.info – sebuah penjelasan yang sangat bagus untuk menunjukkan kapitalisme dan anti-kapitalis.
  2. Strata in the working class – Martin Glaberman –  tulisan bagus yang menganalisis divisi-divisi dalam kelas pekerja.
  3. The Working Class and Social Change – Martin Glaberman – tulisan bagus lain dari Glaberman, kali ini penjelasan tentang kesadaran kelas dan aksi kelas pekerja. 
  4. Capitalism and communism – Gilles Dauvé – sejarah dan analisa kapitalisme yang detail, juga anti tesisnya, komunisme, dan bagian menarik soal pengertian tentang kelas.[]

Diterjemahkan oleh Jjz dari Class: an introduction by libcom.org

Bab 4 Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah Fase Pertama (1)

Beberapa hal mengejutkan saya temukan dalam Bab 4. Antara lain adalah masuknya Shiddiqiyyah sebagai pendukung partai Golkar, kegiatan Khalwat dan ziarah makam.

Bergabung dengan partai Golkar pada saat awal Orde Baru dibangun, saya melihatnya sebagai usaha Shiddiqiyyah untuk memanfaatkannya sebagai perlindungan politik setelah sebelumnya Shiddiqiyyah pada tahun-tahun awal kemunculannya kembali mendapat ribuan fitnah dan dimusuhi oleh berbagai pihak terutama dari para ulama (diterangkan dalam bab-bab sebelumnya).

Berbeda dengan pergerakan Shiddiqiyyah kontemporer yang selalu independen dan tak terlihat berafiliasi dengan partai politik tertentu. Meskipun Shiddiqiyyah memiliki arah politik sendiri yang berdekatan dengan sejarah panjang gerakan nasionalisme jaman kolonialisme dan revolusi Indonesia.

Kegiatan khalwat menjadi sorotan dalam bab ini, mungkin karena beberapa pesertanya dalam masa sekarang kebanyakan menjadi orang yang paling dihormati di lingkungan Shiddiqiyyah. Menariknya, setelah saya berdiskusi dengan Ayu soal kontradiksi ritual dan sosial, saya melihat ada penyesuaian Shiddiqiyyah dalam bidang kegiatan ritualnya ini. Seperti kegiatan Kholwat yang dulu pada awal-awal pergerakan Shiddiqiyyah sering dilakukan, namun di masa sekarang hampir tidak pernah ada, bahkan tak pernah mendengar sama sekali.

Menyambung dalam paragraf sebelumnya, hanya kegiatan ziarah makam para wali yang saya pikir masih dilakukan oleh kalangan warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Lalu mengapa kegiatan ini masih dipertahankan? Apakah ada semacam efek politik maupun sosial dari kegiatan ini?

Yang terakhir saya menganggap istilah ‘barokah’ merupakan sebuah efek dari kegiatan ritual maupun sosial. Dalam hal ini kata ‘barokah’ sering diartikan sebagai ‘kebaikan yang banyak’.[]

Bentuk-Bentuk Anarkisme Modern Dalam Pondok Pesantren

Foto: santri perempuan dalam sebuah acara syukuran

Di tengah lingkungan yang keras akibat otoritas yang sangat menekan, penuh dengan dogma dan sentralisasi, saya menemukan praktek-praktek yang hampir mirip dengan model praktek yang dilakukan gerakan anarkisme modern.
1. Squatting

Beberapa kali menemukan beberapa santri yang memutuskan mengabdi pada pondok pesantren menghuni bangunan kosong yang dibangun oleh pengurus pondok pesantren untuk dijadikan tempat tinggal.

2. Kehidupan Komunal

Seperti makan bersama dalam satu wadah, seringkali juga proses masak, mengumpulkan uang belanja didasari oleh prinsip anarkisme seperti aksi langsung, mutual aid dan asosiasi sukarela.

Tasyakuran RLHS: Tak Hanya Rumah Beserta Perabotan, Sepasang Hewan Ternak Diberikan

Foto: Masyarakat Dsn. Cipir memenuhi acara Tasyakuran Penerimaan Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (13/04)

Kabuh-Kamis malam (13/04) telah dilaksanakan Tasyakuran Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS) yang disampaikan kepada Supriyadi, penduduk Dsn. Cipir, Ds. Banjardowo, Kec. Kabuh, Kab. Jombang. Acara ini merupakan puncak dari pembangunan RLHS oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (Opshid) dan termasuk dalam Program Jelajah Desa Opshid. Tak hanya dibangunkan rumah, Supriyadi juga memperoleh 2 ekor kambing sebagai untuk membantu perekonomiannya.
Tidak saja dibangunkan rumah, namun juga dilengkapi dengan perabotan rumah yang lengkap. Lalu 2 ekor kambing sepasang juga disampaikan kepada keluarga Supriyadi. “Agar perekonomian bapak Supriyadi bisa berkembang,” jelas Kuswanto dalam sambutannya mewakili DPP Opshid.

Penyampaian 2 ekor kambing sepasang juga diamini oleh Budi, perwakilan penerima rumah. Dalam sambutannya ia mengonfirmasikan penyampaian 2 ekor kambing sepasang itu. “Mudah-mudahan ini akan jadi bisa modal untuk kehidupan bapak Supriyadi yang akan datang,” harapnya.

Meskipun sempat diguyur hujan, acara berlangsung dengan lancar hingga selesai. Hadir pula dalam acara Camat Kabuh beserta perangkat Kecamatan Kabuh, perangkat Desa Banjardowo dari sipil maupun militer, Ketua Umum Opshid, M. Subchi Azal beserta jajaran DPP Opshid, jajaran Badan Organisasi Otonom di lingkungan Pondok Pesantren Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah dan anggota DPD Opshid Jombang dan sekitarnya.

Jelajah Desa untuk Kemakmuran Bangsa dan Negara

Dalam sambutannya di acara Tasyakuran Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS) Kuswanto dari DPP Opshid juga menerangkan tentang kegiatan program Jelajah Desa. Diantaranya Pasar Murah Notok Dok, Santunan untuk Kaum Dhuafa dan Pelayanan Kesehatan secara Medis dan Non-Medis. Semuanya untuk kemakmuran bangsa dan negara.

“Pembangunan Rumah Layak Huni (Shiddiqiyyah) juga termasuk dalam kegiatan Opshid yang dinamakan Jelajah Desa,” terang Kuswanto. Ia pun menjelaskan apa saja kegiatan yang berada dalam program Jelajah Desa.

Pertama adalah kegiatan mengadakan pasar murah yang disebut Pasar Murah Notok Dok. Pasar murah ini menjual satu paket sembilan bahan pokok dengan harga yang sangat terjangkau. Bila harga satu paket tersebut sejumlah Rp. 200.000,- cukup diganti oleh masyarakat penerima dengan Rp. 17.000,-. “Kadang juga digratiskan,” tambah Kuswanto.

Kedua adalah Santunan untuk kaum Dhuafa dan fakir miskin. Dan ketiga adalah pelayanan kesehatan gratis secara medis maupun non-medis.

Diterangkan oleh Kuswanto lagi bahwa kegiatan Jelajah Desa Opshid telah berjalan sekitar 11 kali. Meliputi daerah-daerah terpencil di Kabupaten Jombang, Nganjuk, Malang dan Bojonegoro. Juga sempat diikuti oleh Bupati Jombang beserta jajaran pemerintah daerah.

“Ini semua (Program Jelajah Desa) demi kemakmuran bangsa dan negara,” tandasnya kemudian.

Opshid Banjir Terimakasih dan Pujian

Camat Kabuh dan perwakilan penerima rumah mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada Opshid atas selesainya pembangunan RLHS. Budi (54), perwakilan penerima rumah dengan penuh emosional mengaku sekujur tubuhnya bergetar karena sangat berbahagia. Sedangkan Camat Kabuh tidak menyangka hasil pembangunan RLHS sangat bagus.

“Hati kami betul-betul sangat gembira, sangat bahagia. Badan kami sekujur gemetar,” aku Budi. Ia bertugas menyampaikan sambutan mewakili penerima rumah, Supriyadi.

Senada dengan Budi, Camat Kabuh, Edi
Prihandono (49) mengucapkan terimakasih kepada Opshid karena telah membangun rumah bagi masyarakatnya.

“Inilah contoh pemuda yang kreatif dan peduli kepada sesama. Mau membangun rumah yang bagus. Semoga dicontoh bagi organisasi lain,” puji Edi.

Edi juga menyampaikan kekagumannya terhadap rumah yang melebihi ekspektasinya. “Saya kira hanya rumah yang sederhana, namun ternyata sangat bagus sekali. Ini luar biasa,” pujinya kembali.

Ia juga berharap pada Opshid untuk membangun rumah bagi masyarakat Kabuh lainnya yang tidak mampu. “Masih banyak warga Kabuh yang perlu bantuan rumah yang layak huni,” terangnya.

Edi juga mengungkapkan bahwa warganya masih sangat butuh fasilitas MCK untuk keluarga. Ia juga berharap Opshid dapat membangun fasilitas tersebut.

Perangkat Kecamatan Kabuh Berusaha Memberantas Penyebaran Narkoba

Camat Kabuh di sela-sela sambutannya dalam acara Tasyakuran RLHS-Opshid juga mengingatkan soal maraknya peredaran narkoba jenis pil koplo di Kecamatan Labuh. Ia mengimbau kepada masyarakat agar melaporkan bila menemukan warga yang mengedar narkoba. Masyarakat bisa melaporkan hal ini kepada aparat desa, aparat koramil maupun aparat kepolisian.

“Biasanya menjangkiti pemuda-pemudi,” terang Edi. Ia juga mengingatkan bahaya narkoba yang merusak akhlak, badan dan pikiran para pemuda harapan bangsa. “Ini sangat memprihatinkan karena banyak sekali pemuda yang sudah terjangkit,” sambungnya.

Pemerintah pun telah menyiapkan 3 pilar yang setiap saat bisa membantu masyarakat di desa, yaitu aparat desa, aparat kepolisian dan aparat militer (Koramil). Masyarakat nanti bisa melaporkan pengedaran narkoba ke 3 pilar tersebut.

“Nah semua upaya ini agar mencegah masyarakat terjangkit narkoba,” tutup Edi.

Rahasia Keberhasilan Rasulullah

Sunardi Abdillah, pengurus Dhibra menyampaikan rahasia keberhasilan Rasulullah berasal dari hari kelahiran. Ia juga menyarankan agar bershodaqoh dalam rangka mensyukuri hari kelahiran dan menggunakan dana shodaqoh tersebut untuk pembangunan fasilitas desa.

“Sejak Rasulullah lahir, beliau menjadi anak yatim. Kemudian beliau dititipkan dan diajari berdagang,” terang Sunardi dalam sambutannya.

Sunardi melanjutkan, ketika Rasulullah beranjak ke umur 25 tahun dan melamar Khadijah, mahar yang diberikan beliau adalah unta berjumlah 70 ekor. Menurut Sunardi, ini adalah tanda kesuksesan Rasulullah dalam hal materi.

“Suatu hari Rasulullah ditanya oleh sahabat, mengapa berpuasa di hari Senin? Rasulullah menjawab, karena di hari Senin beliau dilahirkan ke dunia, diangkat menjadi nabi dan diangkat menjadi kepala negara,” terang Sunardi lagi.

Berbagai peristiwa penting yang dialami oleh Rasulullah pada hari kelahiran beliau membuat hari tersebut penuh dengan barokah. Maka Sunardi menyarankan agar masyarakat berinisiatif untuk bershodaqoh di hari kelahiran anak-anaknya.

“Kalau punya anak coba mengeluarkan uang shodaqoh di tiap kelahirannya. Sedikit saja tidak apa-apa, asal rutin. Nanti dikumpulkan uangnya untuk dibuatkan fasilitas desa maupun pembangunan desa. Apalagi sekarang desa ini (Banjardowo)/kekurangan fasilitas MCK. Bila shodaqoh ditujukan untuk kegiatan sosial nanti akan masuk ke jiwa sebagai pagarnya hati. Bahkan sama pil saja gak mau,” tutup Sunardi.[]

​Solidaritas Jombang untuk Perjuangan Petani Kendeng

Jombang-Aliansi Gerakan Masyarakat Peduli Agraria (Gempar) Jombang melakukan aksi turun ke jalan dalam rangka solidaritas terhadap perjuangan petani Kendeng, Senin (03/04/17). Mereka membawa spanduk, membagikan selebaran dan melakukan march menuju gedung DPRD Jombang dan kantor Pemkab Jombang. Dalam orasinya mereka menuntut untuk ditutupnya pabrik semen di Rembang dan rentetan konflik agraria di Jombang.

Adapun organisasi-organisasi yang tergabung dalam Aliansi Gempar Jombang adalah Lakpesdam NU, BBH Jombang, Kontras Surabaya, Pentas, PPK, GMNI Jombang, GMPI Jombang, HMI Jombang, BEM Undar dan PPR Jombang.

“Kembalikan Indonesia menjadi negeri agraris,” ucap salah satu anggota GMNI dalam orasinya.

Suasana sempat memanas ketika massa aksi memaksa masuk ke gedung DPRD Jombang dan dihadang oleh kawanan polisi anti-huruhara bersenjata lengkap. Terjadi aksi saling dorong antara massa aksi dengan polisi dan terlihat salah satu aparat polisi membentak salah satu massa aksi.

Setelah tim mediasi massa aksi berhasil meminta dua anggota DPRD menemui massa aksi di depan gedung DPRD Jombang, massa aksi pun meminta 2 anggota DPRD untuk menandatangani petisi untuk memenuhi beberapa tuntutan massa aksi.

“Kami mendukung penuh tuntutan adik-adik Mahasiswa di sini,” ucap salah satu anggota DPRD Jombang yang menemui massa aksi.

Dalam pers rilisnya, Aliansi Gempar Jombang menyoroti pembangunan infrasturktur di Kabupaten Jombang telah gagal atau lebih merugikan masyarakat terlebih lahan pertanian produktif dan petani.  Bukti bahwa pembangunan-pembangunan infrastruktur merugikan masyarakat adalah hujan lebat yang mengakibatkan Banjir dibeberapa wilayah kota Jombang apalagi daerah yang terkena dampak pembangunan Tol Mojokerto – Kertosono dan pembangunan perumahan dilahan pertanian produktif dimana sebagian besar petani mengalami kerusakan dan terancam gagal panen.

“Tentunya ini bertolak belakang dengan jargon “Jombang Sejahtera Untuk Semua” perlu dipertanyakan. ini masalah serius yang harus disikapi secara komprehensif, jika tidak maka bisa dikatakan Pemerintah Kab. Jombang telah menciptakan pemiskinan baru petani dan perusakan sistematis terhadap lahan produktif di Jombang, begitu juga yang terjadi di Rembang Pati Jawa Tengah,” lanjut pers liris tersebut.

Seperti beredar dalam berita media nasional, perjuangan petani Kendeng dilatarbelakangi oleh pembangunan Pabrik Semen yang mengancam beberapa sumber mata air di pegunungan Kendeng. Konflik memuncak ketika putusan MA untuk mencabut ijin pembangunan dan menutup pabrik semen dilanggar oleh Gubernur Jawa Tengah dengan menerbitkan surat ijin baru sehingga memaksa para petani melakukan aksi cor kaki dengan semen di depan istana negara hingga Bu Patmi, salah satu peserta aksi cor meninggal dunia.

Adapun tuntutan massa aksi adalah:

1. Tuntaskan AMDAL TOL Mojokerto-Kertosono.

2. Lindungi Hak-Hak Petani sebagai amanah dari UU 33 tahun 1945.

3. Tolak PERDA yang mengorbankan lahan Produktif.

4. Tolak DANONE di Grobogan Mojowarno.

5. Tegakkan hasil Muktamar NU ke 33 di Jombang, yang haram hukumnya mengalih fungsikan lahan produktif.

6. Tolak Beroprasinya PT Semen Indonesia di Kendeng Rembang Pati Jawa Tengah.(jz)