(Bahasa Indonesia) Apa yang Para Anarkis Bilang Selama Bertahun-Tahun, dan Para Liberal Harus Mulai Mendengarnya (What Anarchists Have Been Saying For Years, and What Liberals Need to Start Hearing)

December 8, 2016

Pertama kali diterbitkan oleh It’s Going Down

Alih bahasa oleh jojos


Pada hari Rabu, tanggal 7 Desember di Universitas A & M, Texas, saat itu agen FBI memonitor ratusan demonstran dari puncak atap, polisi anti huru hara bersenjata bentrok dengan demonstran yang bertekad untuk mengganggu dan membubarkan sebuah acara yang diselenggarakan oleh Preston Wiginton, seorang mantan mahasiswa berumur 51 tahun dan dikenal sebagai supremasi kulit putih sejak lama. Acara tersebut mengadakan sebuah ceramah oleh Richard Spencer, seorang ideolog terkemuka “Alt-Right” yang sedang berkembang, yang mencoba untuk merekayasa kembali ide fasis, Neo-Nazi, dan nasionalis nasional untuk generasi millenial untuk menciptakan fasis kulit putih “Etno-state.” 

Bentrokan yang meletus di kampus adalah peristiwa terakhir dalam serangkaian konfrontasi yang sedang berkembang antara kaum revolusioner otonom dan kaum rasis – mereka memiliki hak untuk bertindak sebagai kekuatan tambahan rezim Trump yang saat itu mencoba mendorongnya lebih jauh ke kanan. Tiba-tiba, anarkis dan antifa, yang telah dihancurkan dan dikesampingkan oleh sebagian besar kaum kiri telah mendengar pesan dari kaum liberal dan kaum Kiri, “Kalian (anarkis) telah benar selama ini.” Tetapi sementara ide anarkis revolusioner mulai memiliki jalan yang lebih lapang untuk berkembang, dan banyak hal yang mulai dipikirkan orang tentang hal ini, kita sudah mengatakannya bertahun-tahun.

Dan taruhannya menjadi semakin tinggi. Kekuatan Kanan-jauh semakin berkembang, baik di sini di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, namun berkembang dalam konteks karena kegagalan drastis antara neoliberalisme dan sosialis juga partai Kiri yang tumbuh dari gerakan sosial seperti Syriza dan Podemos. Semua ini ditambah dengan berlanjutnya dampak ekonomi yang direstrukturisasi, yang mencampakkan miliaran orang secara nyata. Apalagi produksi industri dan ekstraksi sumber daya yang mendorong sistem ini maju terus meluas sehingga terjadi overdrive. Tahun ini secara resmi menandai sebuah titik balik yang mengerikan, kita mencapai pada tingkat 400 bagian per juta karbon. Kini, banyak ilmuwan dan bahkan lembaga pemerintah meramalkan perubahan iklim drastis di masa hidup kita sebagai pola yang tidak dapat dihindari, dan juga cuaca saat ini sudah berubah dengan cepat. Revolusi, dalam arti bahwa segala sesuatu akan terbalik, tak terelakkan. Pertanyaannya adalah, revolusi macam apa yang akan terjadi? 

Karena kiamat ekologis sudah di depan mata, semua tanda kiamat lain juga timbul dengan terus berkembangnya kesenjangan kekayaan, ketidaksetaraan di semua aspek, dan meningkatnya rasa tidak aman dan pradwal bagi pekerja juga orang miskin. Ini juga terjadi di pusat kota seperti di Appalachia. Di garis bawah, hasil upah stagnan atau bahkan jatuh, kemiskinan dan tunawisma telah berkembang, gentrifikasi merajalela, dan dalam segala kondisi menjadi terus mengikis bagi banyak orang Amerika, sedangkan di pihak yang paling kaya malah tumbuh lebih kaya. Selain itu, represi di jalan-jalan AS terus meningkat, karena pemerintah terus menambah lebih banyak kendali pengawasan dan mata-mata, populasi penjara melonjak, polisi membunuh rata-rata sekitar 3 orang per hari, dan penegakan hukum menjadi lebih dan lebih militeristik. Singkatnya, bagi kebanyakan orang, keadaan semakin buruk, tidak lebih baik.

Munculnya Donald Trump hanya menandakan percepatan semua realita ini. Rencana Trump juga termasuk mendorong lebih banyak proyek ekstraksi sumber daya, lihat penyelesaian Dakota Access Pipeline. Dia telah memperjelas dirinya bahwa dia bermaksud untuk mengikis hak-hak demokratis dan terus mengembangkan kekuatan pengawasan, juga upaya menyerang perempuan, orang-orang aneh, pekerja imigran, dan Muslim. Hal ini akan datang beserta serangan menyapu seluruh populasi seperti serangan ke serikat pekerja, program-program kesejahteraan sosial dasar terkikis, dan kekayaan terus mengalir keluar dari tangan kita menuju ke kantong orang kaya. 

Dalam menghadapi semua ini, mulai dari pemberontak Kanan-jauh yang sedang berkembang, sampai kiamat ekologi saat ini, serangan luas terhadap pekerja, orang miskin, lingkungan, dan mereka yang paling rentan, banyak yang bertanya: di mana oposisi? Jawabannya jelas sejelas siang bolong, tapi oposisi tidak berada di lorong-lorong kekuasaan, bukan politisi, pemimpin serikat pekerja, atau berada di LSM-LSM besar. Alih-alih oposis berada di kalangan perusuh (rioters). Orang-orang yang membangun blokade. Orang-orang bertopeng ski yang berada di jalanan. Orang-orang yang berada di garis depan berkelahi dengan polisi. Orang-orang yang menyerang, membela, mengatur, membangun, dan berkembang. 

Kita hidup dalam masa yang ditandai dengan tidak hanya peningkatan krisis dan pertumbuhan reaksi, tapi juga di masa perlawanan dan penolakan massa yang bersifat eksplosif dan juga pemberontakan. Pada saat yang sama, karena tidak pernah jelas bagi banyak orang, Institusi Kiri dan pemilihan umum sama sekali dan sama sekali, tidak berguna. 

Krisis yang kita hadapi bukan hanya satu yaitu dari krisis modal naupun krisis peradaban industri, tapi juga krisis pada oposisi yang sangat setia, Kiri. 

Mungkin sekarang, kalian akhirnya akan mulai mendengarkan
Negara Sama Sekali Tidak Netral 

Pemerintah tidak pernah menjadi alat untuk mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik; Negara selalu menjadi kekuatan yang mengatur negeri untuk kepentingan orang kaya dan berkuasa. Negara adalah kumpulan aparatur hierarkis yang memegang monopoli kekerasan di wilayah tertentu dan memiliki kemampuan untuk menegakkan kekuasaannya melalui kepolisian. Negara ada untuk memastikan bahwa perpecahan yang ada di masyarakat tidak membuat keseluruhan struktur kekuasaan berantakan. Seperti yang ditulis Prole.Info: 

TIDAK PEDULI SIAPA YANG BERADA DI PEMERINTAH, PEMERINTAH MEMILIKI LOGIKANYA SENDIRI. FAKTA BAHWA MASYARAKAT INI TERBELAH MENJADI KELAS-KELAS DENGAN KEPENTINGAN YANG SALING BERLAWANAN YANG BERARTI BAHWA SELALU ADA RESIKO KETIKA NEGARA MEROBEK DIRINYA SENDIRI. PEMERINTAH ADA UNTUK MEMASTIKAN BAHWA ITU TIDAK AKAN TERJADI. APAKAH PEMERINTAH ITU SEBUAH DIKTATOR ATAU DEMOKRASI, MEREKA AKAN MEREBUT SEMUA SENJATA DAN AKAN MENGGUNAKANNYA MELAWAN RAKYATNYA SENDIRI UNTUK MEMASTIKAN BAHWA KITA TETAP BEKERJA.

Tapi kaum liberal melukiskan gambaran yang jauh berbeda. Mereka malah menghadirkan Negara demokratis sebagai institusi netral yang hanya membutuhkan cukup banyak orang untuk terlibat di dalamnya. Seperti yang ditulis seseorang di After Bern: 

ADA SISTEM KEKERASAN DAN DOMINASI YANG BERADA DI ATAS KITA YANG MENJAGA AGAR RODA KERJA TETAP BERJALAN. SEMENTARA HAL ITU DATANG KITA MEMILIKI TANGAN (kemampuan) UNTUK MEMBENTUK KEHIDUPAN KITA, DALAM KENYATAANNYA ADA SISTEM PENGENDALIAN DAN MANAJEMEN DI ATAS KITA UNTUK MEMASTIKAN BAHWA STRUKTUR KESELURUHAN MASYARAKAT INI TIDAK TERANCAM. TIDAK PEDULI SIAPA YANG TERPILIH DALAM PEMILU, TIDAK PEDULI DI PIHAK POLITIK MANA KALIAN BERGABUNG, TETAP HADIR PENGENDALIAN RAKYAT. DAN DEMOKRASI, ADALAH ILUSI TOTAL. 

Tapi sebuah Negara bukan merupakan hal yang netral dari manusia; Negara adalah instrumen kediktatoran kolonial dan kelas. Inilah Mengapa Negara Amerika selalu diorganisir: 

AMERIKA ADALAH BANGSA PENDATANG YANG DIBUAT DARI KOLONI DAN DIKELOLA OLEH KEKUATAN IMPERIAL. SEBAGAI SALAH SATU BAPAK BANGSA KITA, JOHN JAY MEMUTUSKAN, “MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI SEBUAH NEGERI SEHARUSNYA BERHAK UNTUK MEMERINTAHNYA.”

Alasan mengapa setiap kali kelas pekerja dan orang miskin tidak dapat maju dalam dunia politik bukan karena tidak cukup banyak orang yang tidak terlibat dalam perubahan atau berpartisipasi di dalam Negara, namun karena orang-orang yang menjalankan pemerintahan ini telah melakukan investasi untuk mempertahankan Status-quo. Ini terlihat jelas saat pemilihan Donald Trump, keseluruhan garis kelas politik bekerja sama dengan seorang milisi proto-fasis untuk melestarikan perdamaian sosial dan stabilitas politik. Negara dirancang untuk memastikan mampu untuk memerintah dan mengepolisian sebuah wilayah melalui kekerasan dan kekerasan untuk kepentingan mereka yang berkuasa; memandang negara secara netral bukan metode dimana kehidupan kita dapat diubah menjadi lebih baik.
Pemilu tidak akan pernah membuat perubahan sosial 

Keyakinan bahwa kotak suara adalah satu cara terbaik untuk–tidak hanya untuk menciptakan perubahan, tapi juga bergantung pada keberuntungan yang dibuat oleh orang-orang biasa adalah tipuan total. Hal ini juga merupakan ciri khas liberalisme dan sebagian besar kaum Kiri. Demokrasi hanyalah tirai jendela yang kita gunakan untuk melindungi kediktatoran kehidupan orang biasa. Seperti yang ditulis Scott Campbell dalam Trumping Fear, Finding Safety in Resistance:

“Puluhan juta orang merasa terguncang oleh pemilihan Trump, dan kebanyakan dari mereka yang tidak berontak kepada kematian pelan-pelan yang ditawarkan oleh Clinton, kritik terhadap sistem pemilihan umum muncul dimana-mana antara lain: sistem yang terlali rumit, korupsi yang dilakukan oleh National Democratic Commitee, anakronisme Electoral College, dan lain-lain. Namun kritik ini hanya mencari perubahan yang amelioratif, mengambil konsep pemerintahan saat ini sebagai sesuatu yang dari sananya.”

Alih-alih menunjukkan kelemahan spesifik sistem yang jelas menindas, lebih konstruktif lagi untuk mengakui bahwa sistem tersebut benar-benar bekerja sebagaimana dirancang yaitu memberikan pemilih akan dua representasi dari Amrik. Di satu sisi seorang imperialis neoliberal dan di sisi satunya kaum supremasi kulit putih yang misoginis. Seperti kata pepatah, “tidak peduli siapa yang Anda pilih, mereka tetap menang.” Sumber ketidakpuasan, perampokan, kemiskinan dan kematian kita tidak dapat diselesaikan di kotak suara. Konstruksi sosial ras dan gender tidak dapat divoting untuk divonis mati dan kapitalisme dapat dibatalkan dengan sebuah pena. Partai ketiga tidak lebih dari katup tekanan ke sistem, yang dirancang untuk menyalurkan energi berbeda ke dalam proses pemilihan di mana mereka dianggap tidak mengancam.

Ilusi pilihan yang melekat dalam pemungutan suara agaknya merupakan tindakan ketidakberdayaan dan menyerah. Setelah kekecewaan muncul dan menyebar, kesempatan tersedia untuk mengatasi ketidakpuasan pemilih ini dan menawarkan proposal alternatif untuk fungsi sosial alternatif sebelum sistem tersebut pulih di masa depan dalam dua tahun, ketika, “kita harus mengembalikan ke sediakala …” Bagian dari ini adalah untuk menantang narasi seputar pemungutan suara, untuk melawan mitos bahwa hak-hak sipil dan gerakan kaum kulit hitam cuma mengenai hak untuk memilih, bahwa demokrasi adalah ekspresi tertinggi dari kebebasan dan organisasi manusia, dan untuk melemahkan bobot dan nilai voting diantara masyarakat ini. Untuk memilih atau tidak memilih bukanlah masalahnya, melainkan untuk membatalkan pemungutan suara dan menempatkannya dengan benar saat ini sambil menyarankan agar pekerjaan utamanya berada di mana-mana, bukan di kotak suara. 

Jika tidak ada konsekuensi yang nyata pada sistem, mulai dari mundurnya politik elektoral akan sangat menggelikan. Gagasan memilih satu orang untuk menguasai lebih dari 320 juta orang, fakta bahwa mereka semua yang berada dalam konfigurasi teritorial tunggal yang sewenang-wenang sudah kuno, tidak koheren dengan sistem dunia saat ini dan secara diktatur sama sekali tidak representatif.

Scott Jay juga menulis:

“Strategi pemilu selalu berfokus pada pendanaan dan promosi diri mereka sendiri, dengan hanya memberikan lip service yang cukup untuk memberi mereka citra cemerlang terhadap relevansi gerakan sosial, tidak lebih dari itu. Alih-alih menjadi titik awal perjuangan sosial, pemilihan umum telah menjadi kuda poni satu-trik yang strategi konkretnya hanya  langsung masuk ke dirinya sendiri dan tidak menjadi sesuatu yang lebih besar. Alih-alih memberikan strategi untuk mendorong gerakan sosial, hampir secara eksklusif pemilu merupakan pembenaran untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Dalam konteks sebuah negara yang didominasi oleh dua partai, hal ini sering berarti pada tingkat tertentu memberi makan ke partai demokratis, enggan untuk merusak satu-satunya permainan (pemilu).”

Kotak suara tidak lebih jelas daripada kampanye Bernie Sanders, karena kampanye mereka digunakan untuk membawa jutaan pemilih muda, miskin, dan kelas pekerja kembali ke pelukan Partai Demokrat setelah 8 tahun dikhianati oleh seorang Presiden yang telah kabur. Pada “harapan” dan “perubahan,” namun justru sebaliknya. Setelah Sanders sengaja dihancurkan oleh DNC, dia kemudian berbalik dan berkampanye untuk Clinton, dan kini bahkan telah berpelukan dan bekerja sama dengan Trump. 

Dan kebanyakan orang di Amerika Serikat tidak mau berurusan dengan pemilihan umum dan bahkan tidak repot-repot memilih. Seperti tulisan di blog, Where the River Frowns menunjukkan:

“Perkiraan 128,8 juta orang memilih pemilihan presiden, yaitu 55,6% dari populasi yang memenuhi syarat suara. Namun, jika orang-orang yang biasanya diabaikan karena alasan usia dan status kejahatan disertakan, persentase hanya turun menjadi 39,6% dari total populasi yang telah memilih. Dari mereka yang memilih, 59 juta memilih pemenang – hanya 18,2% dari total populasi. Menurut sebuah survei dari lembaga penelitian dari akhir oktober, mereka yang mendukung kandidat tertentu, hanya 55% atau 56% “sangat mendukung” kandidat pilihan mereka. Ini membawa proporsi populasi yang sangat mendukung presiden terpilih menjadi 10,2%.”

Apalagi dalam gerakan Hak Sipil maupun gerakan Buruh, cara yang efektif adalah kerusuhan, okupasi, dan perlawanan massa dan gangguan-gangguan yang memaksa Negara untuk memberikan konsesi, bukan jalan panjang yang lambat melalui institusi. Lalu proses demokrasi hanya membiarkan hak, standar hidup, dan kondisi yang lebih baik untuk perlahan-lahan dikurangi oleh kekuatan yang lebih kuat yang didukung oleh Negara itu sendiri. Singkatnya, cara-cara yang tidak demokratis memaksa tangan negara untuk melakukan tuntutan kita, sementara selama beberapa dekade ketika perjuangan kembali mereda ke dalam politik, hasil positif ini akan hilang. 

Ini artinya persis seperti yang dikatakan anarkis selama ini. Itu bukan saja lewat pemilu tidak akan pernah memberi perubahan sosial, tapk mengatakan tidak ada jalan lain kecuali ‘revolusi’ – tapi secara keseluruhan, sebagian besar orang Amerika menolak tipuan “demokrasi” dua partai yang paling liberal dan orang Kiri berpegang pada hal itu atau berpikir bahwa mereka dapat menciptakan alternatif untuk mengatasi keterbatasannya
Kita Perlu Membangun Gerakan di Luar Partai Politik dan Politik Arus Utama

Politik pemilu menyisihkan gerakan sosial dan perjuangan akar rumput, gerak mereka bukan ke dalam gerakan-gerakan sosial. Seperti yang ditulis oleh Scott Jay:

“Aktivisme elektoral bergerak ke dalam aktivisme elektoral. Ia bergantung pada dirinya sendiri untuk melangkah lebih jauh. Mereka menarik orang-orang yang tertarik pada politik elektoral dan umumnya tidak menarik orang-orang yang terlibat dalam perjuangan kelas. Mereka rasa tidak perlu, juga tidak bergerak di perjuangan kelas, kecuali sejauh mungkin ia memanfaatkan pengorbanan para militan untuk menyatakan dirinya sebagai perwakilan gerakan sosial yang sebenarnya tidak bangun oleh mereka.”

8 tahun terakhir ini kita telah melihat berbagai macam gerakan sosial bangkit dan jatuh, semuanya akan pulih dan dikesampingkan oleh pemilu dan dihancurkan oleh Negara Bagian (Amrik). Setelah krisis ekonomi melanda, kami melihat penyebaran kerja pengorganisiran di kampus-kampus dan ledakan Gerakan Occupy (2011). Obama, dengan bantuan Homeland Security, pusat fusi, dan kolusi dengan departemen kepolisian setempat, saat itu menghancurkan perkemahan demonstran dengan gelombang represi kekerasan.

Beberapa tahun kemudian, kami melihat ledakan Insureksi di Ferguson, yang kemudian dengan cepat menyebar ke Baltimore, Oakland, Charlotte, Milwaukee, dan tempat lain. Perjuangan massa, gerakan, dan pergolakan massa lainnya segera menyusul, dari #PrisonStrike, ke #NoDAPL, hingga kekacauan dan kerusuhan massa yang mengikuti pemilihan Donald Trump. Sekali lagi, Scott Jay:

“Merekalah generasi muda di seluruh negeri yang telah bangkit dalam pemberontakan melawan polisi yang membunuhi mereka dalam beberapa tahun terakhir. Mereka mungkin tidak repot-repot bertanya pada diri sendiri apakah tindakan mereka akan menghancurkan peluang kaum demokrat agar terpilih kembali. Mereka tinggal di dunia yang sama sekali berbeda, di mana orang berjuang untuk hidup mereka melawan sebuah sistem yang mencoba menghancurkannya, hal yang sama juga di mana ada orang-orang yang membuat cetak biru untuk organisasi nasional tanpa ada diskusi mengenai siapa sebenarnya yang akan membangunnya. Kaum muda di jalanan kurang memperhatikan akses ke pemilik suara dan lebih peduli untuk menantang sistem yang mencoba membunuh mereka.”

Tetapi di semua perjuangan ini, kesimpulan logis dan etis mereka adalah tidak datang melalui politik, pemilihan politisi, atau melalui Negara – namun dalam sebuah pemberontakan dan penggulingan sistem kekuasaan, eksploitasi, dan penjara ini.

Dalam semua kampanye pemilu, kita melihat perlawanan tumbuh ketika dibutuhkan. Seperti yang pernah dikomentari oleh After Bern:

“Di seluruh Amerika Serikat, kampanye (Bernie) Sanders telah mengumpulkan lebih dari $ 207 juta dolar. Orang-orang mengetuk pintu, mereka memasang stiker, mereka mengorganisir demonstrasi, dan mereka menelepon.”

Bagaimana jika kita telah menggunakan semua waktu, energi, dan organisasi yang sia-sia itu untuk membangun sesuatu yang tidak berbasis pemilihan seorang politisi? Bagaimana jika kita menempatkan waktu itu, energi, organisasi, dan ratusan juta dolar ke dalam membangun organisasi yang bisa melawan, menang, dan merebut tanah untuk seluruh orang? 

Untuk semua kampanye retorika Sanders, yang bahasa Gerakan Occupy dan gerakan Black Lives Matter, kedua gerakan yang oleh kaum demokrat berhasil dihancurkan dengan kaki mereka sendiri, tidak akan ada “revolusi politik”. Namun, bagi mereka yang telah bersemangat oleh pengaruh Sanders sekarang telah bebas untuk dibawa langsung ke mesin partai Demokrat…..

Kita perlu membangun organisasi, kru, jaringan, dan gerakan akar yang kuat, dinamis, dan gerakan dibangun dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah. Gerakan ini perlu berdasarkan pada lingkungan masyarakat, tempat kerja, sekolah, dan masyarakat kita, bukan di aula kekuasaan. Kita perlu menemukan cara untuk bersama-sama memperkuat kekuatan kolektif kita, bukan menghinanya dengan pemilu. 

Kita membutuhkan gerakan perlawanan dengan gigi, bukan usaha menyedihkan untuk duduk di meja kekuasaan.
Aksi Disruptif dan Konfrontasi Membawa Orang Ke Dalam Gerakan dan Perjuangan, Bukan Malah Membuat Mereka Pergi 

Liberal dan sebagian besar Kiri mengklaim bahwa taktik konfrontatif memundurkan gerakan kita bukan malah membantu kita, seperti memecahkan jendela hingga memblokade jalan-jalan. Tapi kenyataannya, setiap kali taktik ini digunakan di komunitas kita, sama sekali tidak demikian. Sebenarnya, konfrontasi dan gangguan, dengan kata lain: berperang secara fisik, malah membawa lebih banyak orang daripada sekadar menulis artikel atau surat kepada editor surat kabar. Jika ada sesuatu, si selimut basah (the wet blanket) berupaya untuk mengendalikan demonstrasi dengan memakai jasa manajer demonstrasi seperti yang sering digunakan kaum liberal malah membunuh gerakan sosial, tidak menggunakan tindakan agresif yang bisa mengganggu dan terkadang menggunakan kekerasan. 

Kami melihat penggunaan taktik konfrontasi sering dipakai dalam setiap perjuangan sosial dan gerakan. Kerusuhan, blokade, dan bentrokan dengan polisi di Occupy Oakland menumbuhkan ukuran dan skala gerakan tersebut, dan mereka sendiri mengetahui dan melihat dengan mata kepala sendiri kerusuhan Oscar Grant dan pendudukan siswa beberapa tahun sebelumnya. 

Pemberontakan Ferguson mengilhami kaum muda di seluruh negeri sehingga menyebabkan pemberontakan lain yang menarik puluhan ribu orang. Meskipun “pemimpin” dalam gerakan Black Lives Matter mencoba mendukung Demokrat, menyalurkan gerakan tersebut ke dalam politik, dan mereduksinya menjadi reformasi sederhana, gerakan tersebut terus berkembang dan tetap agresif untuk mengganggu selama beberapa tahun.

Gerakan Nasional #PrisonStrike (pemogokan tahanan penjara nasional) yang dikoordinasikan oleh organisasi para tahanan di akar rumput dan dengan para pendukung dari luar, dimulai dengan gelombang kerusuhan, pemberontakan, dan bentrokan dengan para penjaga. 

Dalam perjuangan melawan Dakota Access Pipeline, berbagai taktik telah digunakan untuk menggagalkan proyek tersebut, dari serangan pembakaran terhadap peralatan, pawai massa, doa damai, hingga serangan terhadap bank. Setelah terjadi bentrokan antara penjaga air (water protectors) dengan polisi, dan keamanan DAPL, gerakan tersebut meledak saat Water protectors tampak heroik mempertaruhkan nyawa mereka di garis depan. Saat ini, ribuan orang masih berdatangan ke Standing Rock. 

Liberal dan Kiri mengklaim bahwa tindakan konfrontatif membuat orang takut untuk terlibat. Tapi kita menemukan yang sebaliknya adalah nyatanya. Bila orang melihat perjuangan itu nyata; Ketika ada sesuatu yang harus diperjuangkan, dan orang-orang memasang badan mereka di garis depan, seringkali orang-orang akhirnya datang berbondong-bondong. Protes simbolis dan legalistik lah yang tidak ada gunanya dan tidak berhasil dan akhirnya membuat banyak orang menjauh.
Membela Diri (Self Defense) Bukanlah Fasisme 

Fasisme bertujuan untuk menciptakan Negara yang otoriter. Dan untuk melakukannya, ia harus menghancurkan musuh untuk membangun kekuatan. Jika kita akan menghentikan mereka, kita harus menutup dan menghancurkan mereka di jalan-jalan, dan tidak memberi mereka panggung/platform apapun bahkan tidak sedikit pun. 

Tapi sejauh ini sayap Kanan-jauh telah berkembang sebagai pemberontakan reaksioner setelah bangkitnya gerakan Black Lives Matter, dan mereka juga menjadi kekuatan tambahan dalam kampanye Trump. Sedangkan kaum liberal dan beberapa dari mereka yang Kiri telah mengulangi sebuah kebingungan dan mengeluarkan pernyataan bodoh terhadap mereka yang mempertaruhkan segalanya untuk menghadapi dalam bentuk konfrontasi langsung terhadap fasisme.

Secara keseluruhan, kaum liberal berpendapat bahwa menggunakan kekerasan melawan fasisme, atau untuk mematikan fasis dan tidak memberi mereka ruang, sebenarnya sama buruknya dengan apa yang fasis lakukan – sebenarnya, ini adalah ‘fasisme sejati’. 

Kami pikir dan benar-benar kenyataannya adalah total kebalikannya. Sejak pemilihan umum, ratusan kejahatan kebencian (hate crime) telah terjadi, karena kemenangan Trump telah memberlakukan kaum Kanan-jauh otonom tidak seperti sebelumnya. Setelah serangan terhadap orang-orang di seluruh AS, posisi anti-fasis dengan tindakan konfrontasi dan aksi militan melawan fasis sebenarnya adalah aksi pembelaan diri masyarakat – yang tidak pernah menjadi lebih kuat dari dulu. 

Jika kalian tidak menginginkan fasisme, kalian harus melawannya. Secara terus menerus. Mereka yang melakukan pertarungan ini adalah mereka yang berjuang untuk membela diri, dan mereka yang mengambil risiko ini pantas mendapatkan dukungan kami. 

Gerakan yang menjual perjuangan ini untuk mementingkan diri mereka sendiri tidak layak untuk disebut.
Kita Membutuhkan Revolusi Sosial 

Bencana maupun krisis politik, ekologi, dan ekonomi yang menyapu kita berarti waktu itu tidak berada di pihak kita. Negara terus menjadi semakin represif. Situasi ekologis semakin parah. Perekonomian terus membuat kita semakin miskin dan genting. Kanan-Jauh tumbuh kuat sementara “Kiri” dalam bentuk institusinya, makin lemah dan lemah. 

Gerakan yang kita butuhkan bukan seperti salinan karbon dari masa lalu, juga tidak memiliki program revolusi “ilmiah” yang dapat kita patuhi juga. Kita memasuki wilayah yang baru dan berbeda dari waktu lainnya dalam sejarah.

Yang kita tahu adalah bahwa kita membutuhkan gerakan yang dinamis, melawan, dan agresif. Kita membutuhkan jaringan pertahanan, dukungan, dan kapasitas ofensif yang tidak hanya bisa berperang dalam perjuangan yang ada di sekitar kita tapi juga bisa memulai membangun dunia baru. 

Kiri, yang seperti mematuhi ‘peraturan’ perubahan sosial dan revolusi yang diajukan oleh semua orang dari kaum Marxis-Leninis ke Bernie-Bros sampai ke stiker bumper liberal, telah berakhir. 

Kami adalah orang-orang turun ke jalan. Kami adalah orang-orang yang mengambil tindakan. Dari pejuang pribumi (indigenous warrior), pejuang anti-fasis, militan pembebasan kaum kulit hitam, dan para revolusioner anarkis, kita semua adalah bagian dari kekuatan yang sedang berkembang dan sedang membangun sesuatu yang baru. 

Dan kita adalah orang-orang yang akan menentukan jalan takdir kita sendiri, dan memampuskan mimpi-mimpi buruk ini untuk selamanya.
It’s Going Down adalah pusat komunitas digital dari gerakan anti-kapitalis, anti-fasis, otonom anti-kapitalis dan anti-kolonial. Misi kami adalah menyediakan platform yang tangguh untuk mempublikasikan dan mempromosikan teori dan tindakan revolusioner. http://itsgoingdown.org

Iklan

​Libertarian communism: an introduction (Bahasa Indonesia)

Sebuah pengantar singkat tentang apa yang kami dari libcom.org maksud kepada komunisme atau libertarian komunisme, apa itu dan mengapa kami pikir itu sebuah ide yang bagus.

Pengantar

Ketika kami berbicara tentang komunisme, maka kita akan membicarakan dua hal. Pertama, sebagai jalan untuk mengorganisir masyarakat berdasarkan prinsip ‘dari semuanya menurut kemampuan, kepada semuanya menurut kebutuhan’ (from each according to ability, to each according to need), dan yang kedua, sebagai gerakan nyata terhadap peradaban masyarakat di dunia saat ini. Di sini kita akan membahasnya, dimulai dengan yang terakhir, pengertian yang sudah menjadi rahasia umum.

Gerakan nyata

Dalam pengantar kami mengenai kapitalisme, kami menjelaskan ekonomi kapitalis dan menegaskan kebutuhan kapital – untuk profit dan akumulasi – berlawanan dengan kebutuhan kita sebagai rakyat kelas pekerja.

Juragan mencoba memotong upah, memotong dana pensiun, memutus hubungan kerja (PHK), menambah jam kerja, mempercepat ritme kerja dan merusak lingkungan. Dan ketika kita ada kesempatan, kita melawan karena kondisi hidup kita di bawah ekonomi ini memaksa kita untuk menuntut kebutuhan kita melawan kapital.

Ketika kita melakukan ini: ketika saling bekerjasama, ketika melakukan aksi langsung dan solidaritas untuk menuntut kebutuhan, seperti ketika kita mengorganisir aksi mogok kerja untuk melawan pemotongan upah dan beban kerja yang lebih tinggi, kita memulai dengan meletakkan pondasi atas masyarakat tipe baru.

Masyarakat yang berdasarkan kerjasama, solidaritas dan perkumpulan kebutuhan manusia – masyarakat komunis.

Karena itu komunisme sebagai gerakan, mengkampanyekan soal kerjasama, saling menolong, aksi langsung dan perlawanan kelas pekerja di dalam masyarakat kapitalis.

Pada saat sekarang kecenderungan ini telah meliputi sebagian besar kelas pekerja, dalam gelombang besar kegelisahan sosial dan militansi di tempat kerja, seperti di Amerika terjadi gelombang mogok spontan (wildcat) paska perang, peristiwa Italian Hot Autumn tahun 1969 dan peristiwa British Winter of Discontent di tahun 1978 juga gerakan perlawanan anti-pemotongan/penghematan di Yunani sejak tahun 2010.

Kadang kegelisahan sosial ini seringkali menghasilkan ledakan peristiwa revolusioner. Contohnya di Paris pada tahun 1871, di Rusia tahun 1917, Italia di tahun 1919-1920, Ukraina tahun 1921, Spanyol tahun 1936 dan Hungaria tahun 1956. Hal-hal tersebut adalah beberapa kesempatan kelas pekerja untuk mencoba, lewat aksi kolektif, untuk membentuk kembali masyarakat sesuai dengan kepentingan kita sendiri, bukan kepentingan para juragan.

Untuk semua orang sesuai kebutuhannya…

Tidak ada kekurangan di dunia dimana para politikus atau kelompok politik mengklaim memiliki rancangan yang siap dipakai untuk membentuk sebuah masyarakat yang lebih adil. Namun, komunisme bukanlah sesuatu yang bisa menjadi bentuk nyata oleh partai politik atau politikus individu namun harus dibangun, melalui partisipasi banyak orang dan percobaan-percobaan oleh pekerja sendiri.

Namun perlu ditekankan kali ini bahwa ‘komunisme’ tidak ada kesamaan dengan USSR dahulu atau Cuba dan Korea Utara haru ini. Negara-negara itu pada intinya adalah masyarakat kapitalis dengan hanya satu kapitalis: Negara. Dan hal yang sama juga tidak ada hubungannya dengan China, dimana partai yang berkuasa menyebut diri mereka dengan ‘komunis’ namun terlihat sebagai salah satu negeri kapitalis paling sukses di dunia.

Namun dalam berbagai peristiwa revolusioner yang melewati sejarah (beberapa disebut sebelumnya), kelas pekerja telah mencoba dengan berbagai aspek untuk menaruh komunisme ke dalam praktek. Dalam melakukannya, mereka menetapkan prinsip-prinsip bagaimana masyarakat komunis bisa bekerja seperti contoh praktek-praktek yang tepat ketika kita melakukan aksi bersama demi kepentingan kelas kita.

Hidup tanpa juragan

Daripada kepemilikan atas kendali terhadap alat-alat produksi – lahan/tanah, pabrik, kantor, dll – dibawah kekuasaan individu/privat dan negara, masyarakat komunis berdasarkan kepemilikan dan kontrol terhadap alat-alat tersebut. Dan daripada produksi produk untuk bertujuan untuk menukarnya dengan saham dan keuntungan/profit, alat-alat produksi di bawah komunisme digunakan sesuai kebutuhan manusia, termasuk kebutuhan untuk menjaga lingkungan hidup. Sudah berlangsung sampai hari ini, adalah kelas pekerja yang membuat segalanya dan menjalankan segala pekerjaan dalam kehidupan. Kita membangun jalan, membangun rumah, mengendalikan kereta, merawat yang sakit, membesarkan anak, membuat makanan, merancang produk, membuat pakaian dan mendidik generasi berikutnya.

Dan setiap pekerja tahu bahwa para juragan sering menghalangi kita daripada membantu kita.

Banyak contoh menunjukkan bahwa kelas pekerja menjalankan pabrik/tempat kerjanya sendiri lebih efektif. Dan faktanya lebih efektif lagi daripada tempat kerja yang diorganisir secara hirarkis.

Contoh yang paling dekat ketika pengambil-alihan pabrik-pabrik yang berlangsung selama periode perlawanan tahun 2001, ketika sepertiga industri dalam sebuah negeri telah dikendalikan oleh para pekerjanya. Dan dalam sejarah, terdapat banyak contoh bahkan yang lebih besar dan lebih terkenal.

Contohnya selama Perang Sipil Spanyol di tahun 1936, sebagian besar industri di Spanyol revolusioner telah diambil alih dan dijalankan secara kolektif oleh para pekerjanya. Dimana sangat mungkin di area tertentu para pekerja lebih dekat pada sebuah masyarakat komunis, menghilangkan peran uang dan mendistribusikan barang-barang yang tak terbatas jumlahnya secara gratis.

Di Seattle tahun 1919 selama pemogokan umum, satu kota telah diambil alih dan dijalankan oleh para pekerja. Di Rusia di tahun 1917, kelas pekerja mengambil alih pabrik-pabrik, sebelum Bolshevik mengembalikan otoritas para juragan.

Tanpa upah

Komunisme juga berarti sebuah masyarakat tanpa uang dimana kerja kita – dan hasil kerja kita – tidak lagi memakai sistem untuk dibeli maupun dijual.

Pokok prinsip yang dipegang sebagian besar orang untuk mempertanyakan sebuah masyarakat komunis: apakah manusia sungguh bisa memproduksi barang-barang yang cukup untuk kita untuk bertahan hidup tanpa ancaman kemiskinan, dan dipaksa oleh sistem upah.

Namun beberapa kali ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa kita tak membutuhkan ancaman kemiskinan maupun kelaparan yang menghantui kita agar tetap terhubung dalam aktivitas produksi.

Dalam banyak sejarah manusia, kita tak memiliki kerja upah maupun uang, namun tugas-tugas penting telah terlaksana dengan baik.

Dalam masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan yang sangat damai dan setara contohnya, tidak ada perbedaan antara kerja dan bermain.

Bahkan hari ini sejumlah besar kerja-kerja yang penting telah dilakukan secara gratis. Di Inggris misalnya, meskipun bekerja pada jam yang panjang, orang-orang (kebanyakan perempuan) juga bekerja lebih dari tiga jam pekerjaan rumah tangga tanpa dibayar setiap hari. Di atas ini, hampir 10% populasi melakukan kerja layanan tak berbayar dan 25% populasi dewasa di Inggris melakukan kerja sukarela minimal sekali dalam sebulan. Dalam tingkat dunia, nilai dari kerja-kerja sukarela pada ekonomi diperkirakan sekitar 11 trilyun Dollar Amerika per tahun di tahun 2011 saja.

Hampir setiap apa saja kerja-kerja yang bermanfaat juga dilakukan oleh beberapa orang dengan gratis, bukan “kerja” untuk upah, menunjukkan bahwa hal itu tidaklah terlalu penting. Menanam, menjaga anak-anak, memainkan alat musik, memperbaiki mobil, menyapu, curhat pada orang tentang masalahnya, menjaga orang sakit, memprogram komputer, menjahit pakaian, merancang produk, dan daftarnya masih banyak lagi.

Penelitian menunjukkan bahwa uang bukanlah motivator yang efektif terhadap kinerja yang bagus pada kerja-kerja yang rumit. Masyarakat memiliki kebebasan dan kendali untuk melakukan apa yang mereka inginkan dan memiliki sebuah alasan konstruktif dan manfaat sosial dalam melakukan kerja, jadi itulah motivasi terbaik untuk masyarakat melakukan kerja-kerja tertentu.

Hal-hal seperti gerakan software gratis, juga menunjukkan bagaimana organisasi kolektif dan non-hierarkis yang tujuan utamanya untuk bermanfaat secara sosial sangat superior terhadap organisasi hirarki demi keuntungan semata, dan orang-orang tidak butuh gaji/upah sebagai motivasi dalam bekerja.

Dan tanpa motif profit, setiap pengembangan teknologi dimana sebuah proses kerja akan lebih efisien, (yang awalnya akan berakibat pengurangan tenaga kerja dan membuat sisanya bekerja lebih keras–seperti yang terjadi hari ini), kita semua bisa bekerja lebih sedikit dan memiliki lebih banyak hari libur.

Tanpa Negara

Dalam pengantar kami soal Negara, kami menjelaskan bahwa pemerintah adalah “sebuah organisasi yang mengendalikan dan dijalankan oleh segelintir orang… (dengan) kemampuan terhadap area tertentu untuk membuat keputusan politik dan peraturan – dan menegakkannya, dengan cara kekerasan bila perlu.”

Dengan tidak adanya perbedaan antara juragan dan pekerja, dan yang kaya dan miskin, maka sudah tidak diperlukan sebuah badan organisasi kekerasan yang dikendalikan oleh segelintir orang, seperti polisi, untuk melindungi aset-aset (properti) orang kaya dan menghukum orang miskin, kerja-upah bahkan kelaparan yang melanda semua orang. Dan bila tak ada kebutuhan untuk mengakumulasi kapital dan membuat profit, maka tak lagi dibutuhkan tentara untuk mencaplok pasar baru dan sumber daya baru.

Tentu saja masih perlu untuk melindungi masyarakat dari orang-orang antisosial dan hobi menggunakan kekerasan. Tapi ini bisa dilakukan dengan cara yang terlokalisasi dan demokratis, oleh badan yang diberi mandat, bergiliran dan dapat ditarik kembali, dan bukan oleh polisi yang tidak bertanggung jawab, kebrutalan mereka bahkan pembunuhan yang dilakukan mereka hampir selalu kebal hukum. 

Untuk membuat keputusan kolektif, alih-alih menggunakan “demokrasi perwakilan” yang mengatur sebagian besar negara saat ini, kami mengusulkan demokrasi langsung. Demokrasi sejati lebih dari sekadar hak memilih beberapa individu (seringkali orang kaya) untuk membuat keputusan politik selama beberapa tahun, sementara keputusan lain dibuat dengan tidak bertanggung jawab di ruang rapat perusahaan yang dipimpin oleh “tirani pasar”. 

Kita dapat mengendalikan perjuangan kita sendiri, dimulai dari kelompok teman kerja kita melalui majelis kerja dan masyarakat. Dan kita dapat berkumpul untuk berkoordinasi di wilayah geografis yang luas dengan menggunakan teknologi komunikasi, juga membentuk dewan pekerja dengan delegasi yang diamanatkan dan dapat dipanggil kembali sewaktu-waktu (recall/dicopot). 

Dan saat kita bisa mengendalikan perjuangan kita, kita juga bisa mengatur masyarakat kita, seperti yang telah dilakukan kelas pekerja sebelumnya. Misalnya, selama pemberontakan Hungaria tahun 1956, dewan pekerja dibentuk untuk mengatur jalannya masyarakat karena para pekerja menuntut sebuah sosialisme yang didasarkan pada demokrasi kelas pekerja. Dan baru-baru ini, sejak pemberontakan pada tahun 1994, wilayah Chiapas di Meksiko telah dijalankan secara independen dari negara melalui demokrasi langsung tanpa pemimpin di mana pergantian pegawai negerinya dibatasi hingga dua minggu.

Kesimpulan 

Banyak orang mungkin berpikir bahwa komunisme terdengar seperti ide bagus tapi mereka ragu akan berhasil dalam praktik. Namun pertama-tama perlu ditanyakan “apakah kapitalisme dapat diandalkan?” 

Seiring miliaran orang hidup dalam kemiskinan yang mengerikan di tengah orang-orang yang memiliki kekayaan yang tak terbayangkan, dan kita meluncur tanpa henti menuju bencana lingkungan, kami yakin jawaban untuk kapitalisme adalah “TIDAK” dengan huruf kapital pada semula. Dan sementara tidak ada sistem yang sempurna, kami yakin ada banyak bukti bahwa masyarakat komunis akan berfungsi jauh lebih baik daripada masyarakat kapitalis kita saat ini oleh sebagian besar orang – bahkan bagi orang kaya yang seringkali tidak bahagia meski memiliki kekayaan. 

Sebuah masyarakat komunis tidak akan pernah tanpa masalah. Tapi masyarakat ini akan menyelesaikan masalah utama yang kita hadapi saat ini, seperti kemiskinan dan kehancuran ekologis yang tambah meluas, juga membebaskan kita untuk menghadapi masalah yang jauh lebih menarik. 

Alih-alih kebutuhan untuk bekerja lebih banyak, menghasilkan lebih banyak dan mengumpulkan lebih banyak, kita malah bisa fokus pada bagaimana bekerja lebih sedikit, membuat pekerjaan yang perlu kita lakukan dengan lebih menyenangkan, lebih nyaman, lebih bahagia dan lebih banyak membuat kegembiraan. Alih-alih mengukur keberhasilan masyarakat dengan PDB, kita bisa mengukurnya dengan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat. Alih-alih bekerja dengan satu sama lain sebagai ‘staf’, ‘pelanggan’, ‘supervisor’ atau ‘pesaing’, kita dapat berhubungan satu sama lain sebagai manusia. 

Kita yang membaca dan menulis ini mungkin tidak akan pernah hidup untuk melihat masyarakat komunis libertarian sepenuhnya. Tetapi komunisme seperti gerakan nyata – pertarungan sehari-hari untuk melawan kebutuhan kita terhadap modal – meningkatkan kehidupan kita di sini dan saat ini menjadi lebih baik, dan memberi kita kesempatan yang lebih baik untuk melindungi kondisi kehidupan dan kerja yang sudah baik, serta mdlindungi planet ini, demi diri kita dan generasi masa depan. Memang, komunisme adalah gerakan nyata – yaitu perjuangan sehari-hari untuk mempertahankan dan memperbaiki kondisi kita hari ini – yang meletakkan fondasi sebagai masyarakat yang bebas dan setara. 

Apa yang kita sebut gerakan ini, pada waktu dan tempat yang berbeda, disebut ‘komunisme anarkis’, ‘komunisme libertarian’ atau hanya ‘sosialisme’ atau ‘komunisme’. Yang penting, bagaimanapun, bukanlah nama atau label ideologis namun keberadaannya, tidak hanya sebagai cita-cita masa depan melainkan sebagai perwujudan kebutuhan, keinginan, dan semangat perlawanan kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Semangat perlawanan ini ada, dan selalu ada, di setiap masyarakat dan di bawah setiap rezim dimana ada ketidakadilan dan eksploitasi; Jadi, apakah ada kesempatan untuk dunia yang didasarkan pada kebebasan dan kesetaraan pada semua orang.

Informasi lanjut

  • Capitalism and communism – Gilles Dauvé – sebuah penjelasan detail tentang komunisme sebagai komunitas manusia sejati yang mincul dan antitesis kapitalisme.
  • Work Community Politics War – prole.info – sebuah pengantar yang sangat bagus untuk komunisme libertarian dan kapitalisme. Dunia tanpa uang: komunisme – teman-teman yang terdiri dari 4 juta pekerja muda – teks yang membahas komunisme libertarian dan khususnya perlunya komunisme menjadi sistem tanpa uang. 
  • Parecon or libertarian communism? – Sebuah debat antara kelompok libcom dengan pendukung “masyarakat partisipatif”, yang dengan jelas menjelaskan argumen yang mendukung sistem ekonomi berdasarkan “masing-masing sesuai kebutuhan”.
  • The soul of man (sic) under socialism – Oscar Wilde -Teks kunci seorang penulis dan penyair terkenal yang menguraikan visi pribadinya untuk masyarakat komunis libertarian, dan implikasinya terhadap kebebasan pribadi dan potensinya.
  • Collectives in the Spanish revolution – Gaston Leval -buku yang menguji secara konstruktif prestasi dari revolusi Spanyol, di mana sebagian besar negeri dijalankan oleh kelas pekerja.
  • From mass strike to new society – Jeremy Brecher – Teks yang bagus untuk melihat transisi, dari pemogokan massal ke masyarakat komunis libertarian, khususnya memeriksa contoh sejarah di Spanyol, Italia dan Rusia.
  • The conquest of bread and Fields, factories and workshops – Peter Kropotkin – Dua teks klasik hang ditulis oleh seorang komunis anarkis Rusia yang sekarang sangat kuno namun masih sangat berharga. Yang pertama adalah pencarian terhadap apa yang perlu dilakukan dan bagaimana kehidupan. dalam masyarakat komunis, dan yang kedua menjelaskan bagaimana masyarakat semacam itu bisa diatur.

Alih bahasa ke Indonesia oleh jojos

​(Bahasa Indonesia) G20: We Won The Battle, Elites Are Winning The Media War

Seperti kebanyakan proyek media non-profit lainnya, Indymedia Jerman hampir bubar dalam beberapa tahun terakhir (termasuk mitra mereka di Inggris yang tutup pada tahun 2016). Dalam analisis di bawah ini, para anggota dari kolektif de.indymedia (Indymedia Jerman) menaruh KTT G20 di Hamburg ke konteks perubahan media dalam 2 dekade terakhir dan menemukan tren yang mengkhawatirkan – platform algoritma media sosial yang ramah pada Negara telah membuang pesan kita jauh dari masyarakat yang perlu untuk melihatnya. Mereka bertanya, bagaimana kita mengambil kembali kendali terhadap pesan kita?



KTT G20 di Hamburg adalah KTT besar pertama diadakan di Jerman sejak Heiligendamm pada tahun 2007. 10 tahun telah berlalu dan gerakan anti-globalisasi yang melalui jalur panjang dan terjal kembali bangkit dari kuburnya. Pemandangan cantik dan berbagai pengalaman telah memecah kita dan visi kita, apa yang terjadi di Hamburg kemungkinan akan bersama dalam ingatan kita dalam waktu panjang ke depan. Indymedia sendiri dibuat pada tahun 1999, bersamaan dengan protes besar-besaran ke konferensi WTO di Seattle dan selalu menemani menjadi juru bicara dalam gerakan ini. Disajikan dalam bentuk ganda (a multiplier) dan pada waktu itu hal tersebut sangat unik. Indymedia diciptakan sebelum era Web 2.0, sebelum Twitter, sebelum kejayaan blog, Facebook dan media sosial lain. 

Konferensi itu telah menyebar secara massif ke hampir seluruh penjuru dunia. Keinginan untuk membuat sebuah media dari bawah, datang karena hanya itulah alternatif logis terhadap media (massa) tradisional, yang memaksakan opini dan pandangan dari atas dan tidak memberi tempat pada pesan lain. Media alternatif ini kemudian sukses besar, idenya telah menyebar ke seluruh dunia oleh gerakan sosial dan akhirnya muncullah Independent Media Centers (IMCs) di lebih dari 80 negeri. Di Eropa sendiri puncaknya di Prague dan Genoa. Di Jerman, IMC Jerman dibentuk oleh lebih dari 300 aktivis Media dalam rangka mempersiapkan (protes) pemindahan limbah nuklir yang bertahun-tahun telah didukung di Jerman. Apakah itu limbah nuklir, konferensi keamanan NATO di Munich atau Heiligendamm – Indymedia selalu hadir dan didukung oleh banyak aktivis Media.

IMC Jerman dibentuk dengan jelas sebagai jaringan dan telah berlangsung banyak diskusi tentang bagaimana bentuk jaringannya dan bagaimana ia bekerja. Kolektif aktivis Media datang bersama di Jerman dan bersama-sama mereka menjalankannya.

Beberapa kali, Indymedia dan partisipan aktif aktivis Media berubah. Konferensi di Heiligendamm pada tahun 2007 seperti napas akhir dari gerakan aktivis Media ini. Saat itu mereka telah mengorganisir beberapa Indymedia Centers di Hamburg dan Rostock, yang dibuka untuk aktivis Media selama periode protes, menyediakan sudut pandang mereka untuk disiarkan ke dunia dan membuat kerja media yang aktif. Dengan G8TV yang hingga kini menjadi proyek paling besar dalam melaporkan telah menggasak, telah mematahkan hegemoni berita malam dalam bentuk video. Dengan hasil yang lebih maksimal, kapasitas server telah ditambahkan untuk membentuk sebuah media-konter: “Kami masih di sini.” Dengan kerja riset maksimal pencarian rumah sakit, riset informasi, membentuk pengaruh, membangun narasi penentuan nasib sendiri. Masyarakat lokal, juga para demonstran sendiri diberi informasi tak hanya melalui internet tapi juga melalui media cetak. Sebuah kegilaan, gairah, militansi dan kekuatan yang cukup mustahil saat itu.

Indymedia dan Hamburg G20

Dibandingkan dari konferensi G8 di Heiligendamm tak banyak kemajuan yang banyak. Dalam 10 tahun terakhir terjadi penurunan dan pergeseran yang signifikan sehingga para pemberontak tak lagi bersuara lewat Indymedia, tetapi telah tergoda pada dunia yang terpencil pada integrasi media sosial. IMC Jerman juga terbelah, berujung pada pembentukan alamat baru IMC – yang rupanya masih cukup lumpuh dan membiarkan tidak adanya pengertian untuk dituntaskan.

Namun salah bila menyebut ini sebagai penyebab mengapa Indymedia telah lemah dalam Hamburg G20. Apakah ada tidaknya awak de.Indymedia di sana bahkan tidak jelas kerja medianya dibanding 10 tahun yang lalu. Fokus kebanyakan media aktivis terbelah: FCMC media center dibentuk dan kelihatannya bekerja dengan baik, tetapi tak mau menyematkan label Indymedia atau memasang standar Indymedia. Ijin masuknya hanya untuk sumber yang berkompeten tanpa publikasi anonim, yang berarti beberapa aktivis Media terhalang untuk berpartisipasi aktif seperti yang mereka lakukan di sebuah Indymedia Center.

Namun di lain pihak lemahnya soal media ini dalam menjangkau publik sangat mencolok: Tak ada koran G20 atau semacamnya, tak ada aksi nonton bareng materi video di alun-alun maupun di taman-taman. Sebagai perbandingan, saat konferensi G8 di Skotlandia pada tahun 2005 terdapat grup independen berisi 30 orang yang telah mendorong perhatian setiap minggunya sebelum konferensi, dimana mereka berbicara pada ke desa-desa sekitar secara bertatap muka langsung dengan para penduduk dan mendorong pemahaman atas protes/demonstrasi – karena koran-koran cetak dan selebaran dianggap tak cukup untuk membentuk sebuah suara perlawanan. Indymedia jagonya.

Fokus pada Twitter dan Facebook

Meskipun di satu sisi beberapa grup seperti tim bantuan hukum G20EA dan spektrum otonom lain masih menggunakan Indymedia untuk menyebarkan informasi, gambaran publik milik banyak grup lainnya berserakan di Twitter. Beberapa diantaranya yang secara khusus disebutkan di sini adalah BlockG20, juga FCMC dan G20Entern, dsb, dll. Karena itu, representasi eksternal terbatas selama protes berdasarkan Twit ini. Idenya adalah kemungkinan untuk memakai rentang yang lebih luas  dari Twitter untuk mendapatkan perhatian lebih. Tetapi mereka yang ingin mendapatkan gambaran protes, selama protes, di Twitter harus mencari bahwa jangkauan besar Twitter tidaklah cukup untuk menjangkau lebih banyak orang dengan konten yang mereka miliki sekarang.

Twitter menggunakan hashtag, pesan-pesan yang tersusun dari sumber yang tak dikenal tersampaikan melalui proses kategori masing-masing pengguna. Hashtag “resmi” konferensi di Hamburg adalah #G20HAM17. Dalam hashtag ini otoritas penerjemah dengan jelas berada di pihak polisi. Diantara twit-retweet mereka banyak sekali berbagai macam ekspresi pendapat dan surat kabar mempromosikan produk mereka, dimana tak ada kesempatan untuk membaca tentang para aktivis. Mereka tenggelam. Meskipun memakai metode pencarian yang logis tentang #G20, sepertinya terlihat lebih buruk karena lebih banyak lagi pesan-pesan bahkan dalam Bahasa Inggris dari seluruh media komersial.

Para demonstran sendiri mengubah gambar publik mereka menjadi hashtag #NoG20 yang artinya sebuah niche terbentuk kembali, meskipun sudah memakai Twitter, menutup informasi kepada orang-orang yang ingin kita jangkau. Terlalu banyak sudah struktur dasar twitter dan mitos bahwa terdapat kesempatan untuk membuat rute alternatif kepada publik di luar sana dari lingkaran kita sendiri. Tetapi walaupun dalam tagar #NOG20 sendiri, banjir sekali berbagai opini terhadap rally, dll yang bakal membuat hal menjadi bertambah sulit untuk mencari  informasi benar-benar dapat diandalkan. Jadinya itu hanya seperti kompetisi komentar yang besar. Hanya dengan sering menggunakan retweets – dan militansi berkali-kali memberikan informasi pada orang lain – adalah hal yang memungkinkan untuk bisa didengarkan di dunia yang omong kosong ini, versi parsial dan mudah dipahami dari apa yang sedang kita suarakan.

Twitter dan tanda pertama dari kekuatan penegakan hukum

Tak terkecuali, kita harus fokus bahaya lain dari “sosial” media. Twitter tak berada di bawah pengaruh kita. Kritik terhadap perilaku moderat dari Twitter sangat buang-buang tenaga – kecuali hal itu menjadi lebih berbahaya pada kita. Meskipun sebelum Network Enforcement Act mengijinkan pemerintah Jerman mengancam dengan denda besar kepada media sosial yang gagal untuk menyensor konten “ekstremis”, dan mereka langsung taat.

Ada beberapa protes baru-baru ini kepada “Shadow Bans” (dimana para demonstran menemukan bahwa filter spam juga menghapus pos-pos radikal), dan pengguna yang ditutup dan diblok “akibat masalah perilaku” memotong mereka dari Twitter. Khususnya Shadow Band sangat berbahaya dan rawan disalahgunakan:  Ini tak berarti pesan pengguna tak lagi berada di jaringan Twitter, tetapi lewat rentang IP tertentu, contohnya di Jerman, mereka akan memblokirnya. Secara efektif pesan itu tak lagi bisa dilihat oleh pengguna dari negara tersebut, tanpa pemberitahuan pengguna tertentu. Hal ini terjadi secara diam-diam dan rahasia, tiba-tiba saja pesanmu tak ada. Hal ini bisa terjadi bahkan bila peraturan pemerintah tak ditegakkan. Apa yang akan kamu lakukan, hei BlockG20, FCMC, dll, bila hal ini terjadi? Apa sudah ada strategi cadangan? Bagaimana cara kita membuat pesan kita terdengar bila selanjutnya pesan kita kena Shadow Ban dengan mudah? Bergantung pada layanan komersial seperti Twitter sangat berbahaya. Menggunakannya sebagai satu-satunya alat komunikasi adalah sebuah kelalaian yang besar.

Kita belum menyebutkan aspek terburuk dari tren ini, mungkin karena hal ini terjadi baru-baru saja di Jerman: Twitter sangat aktif bekerja sama dengan otoritas represif. Tidak peduli berapa kali Twitter beraksi sebagai “penyelamat demokrasi”, mereka hanya akting saja. Korporasi seperti mereka selalu memberikan keuntungan/profit bila digunakan oleh otoritas represif, bila perlu. Ini kenyataannya dalam perlawanan di Mesir dan juga selama Arab Spring.

Tickers 

(penj. Tickers itu seperti berita singkat pasar saham dan bentuknya mungkin seperti platform Twitter)

Tickers yang pendek, pesan yang tak terverifikasi sangat penting dalam protes dengan skala besar seperti ini. Namun kami kekurangan kekuatan dan tak sanggup mengorganisir rapat-rapat yang perlu, seperti yang sering kita lakukan dulu. Tak terlalu menarik. Hal ini sangat terkait, dalam pandangan kami untuk fokus ke Twitter. ” Mengapa membangun sebuah ticker bila sudah ada Twitter dan semua orang menggunakannya?” adalah salah satu responnya.

Namun kita harus memutuskan untuk membuat sebuah kebutuhan yang utama, dan kita masih memiliki struktur ticker dari kekuatan-kekuatan yang berbeda dari bawah. Hal ini merupakan usaha kami untuk membebaskan diri, bukan hanya dari kelemahan kami tapi juga menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk menawarkan struktur yang lebih baik dari Twitter. Gambaran pertama dan analisis terperinci mengenai ticker dapat ditemukan di sini, tapi kami belum tahu seberapa suksesnya kami dengan ticker saat itu. Namun saat itu sukses besar. Karena kebijakan log anonim kami, sayangnya kami hanya bisa memperkirakan perkiraan penggunaan, namun setidaknya berhasil mendapatkan 50.000 klik saat itu. Dalam pandangan kami ini sebuah kesuksesan ketika saat itu kami tidak berharap apa-apa. Tentu saja, kita masih jauh dari lalu lintas (server) yang kami awasi di Heiligendamm 2007 atau demonstrasi Castor tahun 2001 – Tapi untuk beberapa saat di tengah diamnya hampir semua kelompok protes lain, ini adalah angka yang sangat tinggi sehingga mendorong kami untuk memperluas ticker untuk demonstrasi di masa depan.

Kani juga melihat, dibandingkan dengan Twitter, betapa penting ticker yang kami miliki. Fokusnya jelas pada orang-orang yang terlibat dalam demonstrasi itu sendiri. Menurut kami hal ini dapat diperluas dan tersedia untuk dicoba dan dimodifikasi, namun kami berharap di antara semua itu, hal ini menunjukkan kemungkinan penerapan media alternatif lain yang masuk akal untuk membangun struktur semacam itu. Tentu kami menanti kerja sama kalian. Jangan membenci media, jadilah media!

Siaran langsung (live streaming)

Hal yang baru di sini adalah siaran langsung, video direkam langsung ke internet. Hanya ada jeda beberapa detik atau menit antara rekaman dan pengambilannya oleh pecinta media. Pada KTT G8 sebelumnya, kemampuan ini dimonopoli oleh stasiun TV besar namun juga sangat dibutuhkan oleh kita, selain harus memiliki kapasitas server yang cukup, namun juga perlu usaha yang sangat besar di situs untuk membantu pengguna yang kurang cerdas secara teknis. Tapi kali ini, berkat penyedia komersial seperti Periscopes dan Youtube, ponsel pintar dengan paket data sudah cukup. Ini kemajuan teknis yang telah digunakan secara luas tidak hanya oleh para aktivis media, tetapi juga oleh media komersial di KTT G20 ini.

Bahkan jika kami melihatnya sebagai langkah mundur, sekarang kami harus menggunakan penyedia komersial untuk memasok infrastruktur server teknis (dengan G8TV tentunya sebuah jaringan milik Indymedia global), kami melihat peluang besar dalam live streaming (siaran langsung) teknologi baru ini, yang secara langsung membuat frustrasi narasi polisi. Keaslian gambar hidup yang belum dipotong telah menempatkan asersi yang dibuat oleh sumber polisi, misalnya dalam demonstrasi Welcome to Hell kemarin, ke dalam sebuah perspektif. Polisi, tidak dapat mempertahankan narasi Black Bloc itu jahat, dan narasi itu secara de facto rusak. Kami memiliki dasar yang sangat kuat untuk menjadi begitu, karena banyak orang yang bisa mendapatkan gambaran situasi yang berbeda karena live streaming dan dapat menjadi oposisi langsung. Kerusakan narasi polisi tadi sangat parah sehingga berdampak ke pers komersial sekalipun, kata polisi. 

Tentu saja, live streaming juga berbahaya dan tidak hanya terdapat hal positif: Pixelising wajah dan tindakan perlindungan privasi lainnya tidak mungkin dilakukan dengan cara langsung. Sebagian besar menyajikan representasi eksternal tapi elemen positif yang menarik adalah fungsinya yang dapat digunakan lebih banyak di masa depan. Situasi serupa yang kami alami di G8 di Genoa pada tahun 2001, ketika serangan polisi ke Indymedia Center dapat disaksikan secara langsung oleh ribuan orang. Tapi saat itu hanya memakai webcam mungil dan koneksi internet yang tetap. Kemajuan dan potensi yang besar! 

Multilingualisme dan diseminasi (penyebaran) di daerah krisis

Kekuatan Indymedia di masa lalu adalah menyebarkan pesan ke berbagai belahan dunia. Dalam KTT G20 ini misalnya, telah hadir penguasa dari Argentina dan Brasil. Kedua presiden tersebut berdiri untuk sebuah kebijakan yang sangat represif terhadap gerakan sosial. Tapi kami tidak melihat fokus pada citra publik buruk para penguasa ini dan hubungannya dengan demonstrasi tersebut. Di masa lalu gambar-gambar dari Heiligendamm diangkut ke daerah-daerah tersebut saat KTT berlangsung di sana dengan terjemahan dan live streaming G8 TV, kali ini kami kecolongan sedikit.

Salah satu penyebabnya adalah jaringan Indymedia internasional sebagian besar ambruk. Tapi tampaknya juga pendekatan ini tidak termasuk dalam persiapan demonstrasi. Tahun depan ketika KTT G20 di Argentina – akan sangat menyenangkan untuk mencari kerja sama dengan para aktivis media Argentina terlebih dahulu dan juga untuk memfokuskan pelaporan, terutama di negara ini. Apa yang tersisa dari kunjungan presiden Macri, demonstrasi domestik, pembatasan undang-undang media dan upaya untuk menutup stasiun radio gratis? Seorang presiden yang jelas berada di pihak junta militer dahulu dan neoliberalisme?

Hal tersebut tak ada, sepertinya dia sama sekali tidak berada di sana. Sebagai gantinya, Trump telah pindah ke panggung utama bersama Putin dan Erdogan. Orang yang telah berada dalam sorotan kritis dan membuang jauh perhatian kepada mereka, khususnya dari luar G20. Kami melewatkan kesempatan untuk mengirim sinyal yang menyebar ke Amerika Latin.

Diskursusnya didominasi oleh polisi

Satu hal yang sangat jelas: diskursus, interpretatif otoritas, narasi – telah ditentukan oleh polisi Hamburg. Bahkan jika tidak ada yang baru, pada prinsipnya polisi berpengaruh melalui kerja pers aktif, sungguh mengejutkan melihat betapa suksesnya mereka dalam hal ini dengan usaha mereka. Beberapa bulan sebelumnya polisi menggunakan isu kekerasan dalam demonstrasi dan berhasil mengalihkan fokus sepenuhnya ke pertanyaan ini. Mereka begitu sukses sehingga semua upaya liputan media alternatif gagal. Dengan kekuatan personil yang belum pernah terjadi sebelumnya dan provokasi yang direncanakan, mereka berhasil memblokir narasi protes sepenuhnya terhadap pertanyaan: ya atau tidak terhadap kekerasan.

Konten lain tidak memiliki kesempatan sedikitpun di sini. Tidak hanya itu, di lapangan, polisi memiliki tim media sosial (dilaporkan) sejumlah 300 orang ditambah dengan serikat polisi dan lain-lain, melalui provokasi dan tindakan yang direncanakan seperti pertanyaan tentang larangan berkemah, mereka tidak hanya membiarkan para aktivis diperiksa (sampai janggut mereka pun diperiksa), tapi juga menyampaikan diskursus populer. Meskipun telah dilakukan sebelumnya di acara konferensi sebelumnya, setidaknya saat itu kami membawa isi protes ke dalam pandangan publik. Kali ini, polisi dengan diskusi yang terus-menerus dan disengaja mengenai keabsahan kamp-kamp, juga dengan ​​melalui hukum atau sabotase terhadap orang-orang yang berkemah sebelum konferensi, mereka mengambil alih ruang yang seharusnya dihuni oleh demonstrasi dan demonstrasi. Cakupan apa yang tersisa tentang Night Dance Demo terbesar  yang pernah dikenal Hamburg? Ya – acara itu sangat damai.

Polisi tidak lagi perlu dianggap sebagai lawan yang potensial di jalan – satu reputasi yang mereka dapat di Hamburg berkat kekerasan polisi yang mengerikan. Namun tidak lagi begitu, mereka telah menjadi pemain politik besar dan kuat yang memiliki agendanya sendiri. Pasukan tersebut diberi ruang lebih banyak dalam liputan media daripada LSM, partai politik dan kelompok lainnya. Mereka menentukan arah liputan hampir seluruh waktu.

Bahkan saat menyelinap dari interpretasi di malam demonstrasi Welcome to Hell atau penggusuran paksa Camp para aktivis, mereka masih berhasil membangun wacana (diskursus) dalam kerangka yang sama, mengenai isu kekerasan. Dari segi persepsi publik terhadap G20 kita tidak memiliki kesempatan mengubahnya. Itu adalah realita pahit yang harus kita perhitungkan. Bagaimana kita, dengan totalitas di semua protes tersebut belum bisa menyuarakan konten kita dan membuatnya terjangkau untuk umum?

Ada poin bagus: Taktik “jari” Colour The Red Zone misalnya, saat blokade, perlu untuk diteruskan di masa depan. Namun, penyiaran konten kita tidak terkelola, tidak dilihat dan tidak cukup baik untuk dikomunikasikan dengan pihak luar. Sebuah video konferensi pers tidaklah cukup. Di sini kami mengkritik diri, karena kami gagal atau terlambat mendeteksi untuk mencatatkannya pada struktur ticker. Pasti menyenangkan, memiliki jari berwarna berbeda di peta dan masing-masing memiliki kaitan dengan konten jari di sana.

Meskipun demikian, tetap saja strategi polisi ini bukanlah hal yang baru: di masa lalu polisi selalu mencoba memanipulasi protes atas nama mereka dan niatnya mewakili para demonstran. Tapi kali ini mereka bertindak dengan baik. 

Di akhir demonstrasi, dalam persepsi publik tidak ada yang tersisa kecuali pertanyaan “Siapa yang harus disalahkan atas kekerasan?” Ini adalah sesuatu yang bisa kita cegah, jadi haruslah dicegah. Dengan menahan keingin-tahuan pers sama sekali tidak membantu, yang selalu hanya ingin menunjukkan mobil yang terbakar (di G8 pada tahun 2007 di Rostock sebuah mobil tunggal terbakar dan difilmkan dari puluhan sudut, dipotret dan diberi judul halaman). Dan pertanyaan bagi kita adalah bagaimana kita bisa mengatasinya untuk membuat konten kita dipahami oleh publik.

Sebuah pergeseran ke kanan dengan keras

Konferensinya sudah berakhir, tapi efeknya tidak. Kelompok garis keras di semua partai telah menggunakan narasi yang disiapkan oleh diskursus polisi yang akhirnya mendefinisikan musuh mereka yang selalu dibenci mereka: Semua hal yang progresif. 

Sejalan dengan diskusi “kekerasan” terhadap kamp aktivis, mereka sekarang terlibat dalam perdebatan tentang “kiri tengah” dan mencoba sebisa mungkin untuk mendelegitimasi demonstrasi tersebut. Di Hamburg, SPD dan Greens berusaha menyelamatkan citra mereka dan untuk itu mereka mengancam akan melakukan penggusuran, antara lain menggusur Flora Rote. Orang-orang garis keras di seluruh negeri mengambil kesempatan mereka di musim yang konyol ini dan berkampanye untuk pembersihan diri mereka. Pembicaraan terbuka seperti itu tentang penduduk Hamburg cukup bisa diharapkan membawa kekacauan lebih lanjut dengan harapan bodoh untuk menyelamatkan citra mereka sendiri. 

Oleh karena itu, prioritas sekarang adalah tidak menggantungkan kepala kita (bunuh diri) tapi untuk bernafas dan melawannya dengan karya media kita sendiri. Menundukkan kepala kita dan membangun jaringan yang kuat dan efisien yang tidak hanya dapat menahan serangan ini, tapi juga bisa meraih lebih banyak kesuksesan. Bahwa idenya telah diringkas dengan baik oleh juru bicara perempuan kiri intervensionis, di mana dia mengatakan bahwa dalam kelaparan kita akan dunia lain, kita melupakan ketakutan kita terhadap polisi. Inilah yang bisa kita ambil dari Hamburg sebagai hal yang positif, tidak peduli berapa banyak kritik dan oto-kritik yang kita rumuskan di sini. Protes G20 merupakan pengalaman formatif yang kuat dan konsisten bagi kita dan bagi semua orang yang berada di sana. Biarkan semua hal yang terjadi saat itu membawanya ke dunia di luar kita!

Jaringan di dalam jaringan, tak ada kata untuk terlambat

Indymedia dimulai sebagai platform web murni pada tahun 1999 dan berkembang pesat menjadi lebih banyak lagi. Banyak yang tidak lagi hadir namun sisa-sisa infrastruktur jaringan Indy tetap bertahan dan mengatasi kebutuhan pekerjaan sehari-hari. Tapi hal-hal “ekstra” tersebut bertebaran. Fokus pada Web berarti semakin banyak aktivis menyimpan cerita mereka melalui media sosial dan mencoba mengunggah konten di sana. Strategi ini mungkin bisa diperdebatkan dengan berbagai alasan, namun fokus utama pada hal tersebut bisa berakibat fatal (seperti yang akan difokuskan hanya pada web dari berbagai IMC). Untuk keluar dari kesengsaraan yang berada pada G20, kita perlu membangun lebih banyak media yang berdiri sendiri lagi.

Kita perlu mengembangkan jaringan yang harus direncanakan dalam demonstrasi, juga melakukan hubungan langsung ke masyarakat secara mandiri. Jadi kita tidak hanya menulis siaran pers dan berintegrasi dengan media komersial, namun secara khusus berencana membangun struktur kita sendiri juga. Melalui nedia web, media cetak, media audio dan video – kemudian juga tetap ada di media sosial. Kami pikir Indymedia memiliki andil besar dalam keberhasilan gerakan anti-globalisasi. Kami tidak bermaksud secara khusus bahwa “kita” sebagai sebuah kelompok, tapi sebagai gagasan Indymedia itu sendiri. Kami juga berpikir lagi bahwa ini adalah gerakan global rapi yang dibutuhkan untuk meludah ke dalam sup para penguasa yang juga membangun alternatif untuk hidup. Dunia yang berbeda adalah mungkin – dunia yang berbeda juga diperlukan. Ini termasuk jenis media yang berbeda juga. 

Kami pikir Indymedia bisa mewakili poros media alternatif. Sebuah platform, sebuah jaringan di mana arus yang berbeda bersatu dan isinya diangkat dengan pijakan yang sama. Entah dalam konteks besar seperti Intervensionist Left, sebuah serikat buruh birokrasi atau kelompok afinitas kecil otonom di sebelahnya. Kami pikir proyek ini, berdiri melawan segala rintangan. Bawa ide ini ke dalam hubungan kalian dan diskusikan dalam kelompok afinitas kalian. Bayangkan bagaimana Indymedia dan media kontra-publik lainnya dapat memainkan peran lebih besar lagi. Menggunakan pengalaman yang telah kalian kumpulkan dan membuatnya bermanfaat. Diskusikan apa itu Indymedia dan bagaimana kita bisa sampai di sana. Mimpi apa yang kita inginkan untuk media lain. Kami terbuka untuk bertukar gagasan dan menantikan umpan balik kalian. Secara khusus, kami senang dengan kolektif media yang baru didirikan atau didirikan kembali, kelompok Indymedia lokal, bioskop Indymedia, pemutaran, terjemahan, cetak foto dan orang-orang yang ingin juga berpartisipasi dalam pekerjaan infrastruktur.[]
Terjemahan bahasa Inggris terbit pertama kali di freedomnews.org.uk

Terjemahan bahasa Indonesia oleh jojos

​Environment: an introduction (Bahasa Indonesia)

Picture: beautiful sunrise in British countryside

Sebuah ringkasan dan penyelidikan terhadap krisis lingkungan dan penyebabnya, dan kami pikir masalah tersebut bisa ditangani.
Bumi sedang menghadapi krisis lingkungan dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam peradaban manusia. Krisis ini bertanggung jawab dalam penderitaan berat umat manusia, dan bila berlanjut, beresiko menjadi sebuah pemusnahan massal manusia di bumi.

Masalah lingkungan.

Isu lingkungan yang paling memiliki daya hancur paling tinggi di dunia saat ini adalah:

  1. Polusi udara: mengakibatkan perubahan iklim, peningkatan besar temperatur yang akan sangat mengganggu pola cuaca dan berakibat banjir besar, kemarau panjang dan wabah yang membunuh jutaan orang. Polusi udara juga turut menghancurkan lapisan ozon (berfungsi menyaring sinar berbahaya dari matahari yang membawa sel kanker), juga gangguan pernafasan dan wabah lain yang membunuh lebih dari 6 juta orang per tahun, menurut WHO.
  2. Limbah padat: lingkungan lautan dan daratan telah teracuni oleh pembuangan sampah industri yang berbahaya (seperti limbah merkuri dan nuklir). Juga penggunaan bahan yang tidak bisa diurai pada produk dan kemasan, yang secara umum telah digunakan sehingga menghasilkan limbah yang sangat besar, bahkan meracuni dan melukai masyarakat.
  3. Erosi tanah: hasil dari penggunaan pupuk kimia, pestisida, dll juga penggunaan lahan yang tak bijak serta penggundulan hutan. Karena alasan inilah tanah menjadi lebih cepat mengalami erosi dari proses daur ulangnya, sehingga berkontribusi terhadap kemiskinan di pelosok desa. Beberapa ilmuwan memperkirakan pada tahun 2030 hanya ada tersisa 20% hutan di bumi, dan 10% nya berada pada kondisi yang memprihatinkan.
  4. Kepunahan: tumbuhan dan hewan telah sengaja dipunahkan lebih cepat sejak dinosaurus punah. Kepunahan atas spesies ini mengganggu lingkungan hidup dimana semua kehidupan tergantung padanya.

Dibalik krisis lingkungan

Seringkali banyak orang berpendapat alasan dibalik mengapa dunia menjadi seperti ini karena kelebihan populasi atau karena teknologi modern.

Namun, sebagian besar praktek penghancuran lingkungan hidup tidak dilakukan oleh dan untuk keuntungan banyak orang, dan bukan karena sebagian besar teknologi industri modern telah dipakai secara umum. 

Akar masalahnya bukan terletak pada populasi yang berlebihan atau teknologi modern yang menghancurkan. Akar masalahnya terletak di dalam masyarakat – khususnya industri – yang berjalan hari ini. Lebih spesifik, pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, gas batu bara, pengeluaran gas karbon dioksida (CO2) menghasilkan pemanasan global yang membawa bumi pada kehancuran. Tidak seperti seharusnya.

Sebagian besar teknologi dan zat berbahaya bisa diganti. Daripada membakar bahan bakar fosil, energi terbarukan bisa dipakai, seperti kincir angin atau tenaga surya. Bahan petrokimia berdasarkan plastik (seperti bungkus plastik), yang tak bisa diurai, bisa diganti oleh plastik berbahan bio (aman dihancurkan meskipun dibiarkan saja).

Hidup dalam gaya hidup ramah lingkungan bukanlah berarti kita memutuskan hidup di bawah standar. Yang perlu disalahkan atas krisis lingkungan hidup bukanlah masyarakat umum yang membiarkan lampu menyala atau memakai sabun yang salah. Akar masalahnya adalah sistem produksi kuno yang berdasarkan profit dan tidak berkelanjutan. Yang perlu disalahkan atas krisis lingkungan hidup harusnya adalah kapitalisme, pemerintah dan masyarakat yang dipaksa dibentuk seperti ini.

Kapitalisme

Kapitalisme adalah sebuah sistem produksi yang sangat ketinggalan jaman, yang memaksakan diri pada kompetisi pasar dan profit. Untuk bertahan dalam kompetisi ini, perusahaan-perusahaan harus memaksimalkan profit. Dan untuk memaksimalkan profit, biaya produksi harus tetap rendah. Jadi mengupah para pekerja adalah biaya yang harus di minimalkan, juga biaya untuk melindungi lingkungan dan pembuangan limbah. Baca pengantar kami terhadap kapitalisme.

Pemakaian peralatan keamanan dan mengadakan pengawasan terhadap penggunaan material berbahaya sangat menguras uang dan memotong keuntungan/profit. Lebih menguntungkan bila melempar biaya yang menguras kantong ini pada masyarakat dalam bentuk polusi pada lingkungan.

Ini belum menyebutkan seluruh produk yang diproduksi dalam cara yang kotor dan tidak efisien. Banyak barang yang diproduksi dibuat tanpa menghiraukan segala akibat demi menjaga angka penjualan tetap tinggi (‘strategi built-in obsolescence’). Barang-barang tak berguna dan tak efisien dipromosikan dan dijual dengan iklan yang bertekanan tinggi, seringkali dengan bantuan peraturan pemerintah (seperti penjualan sepeda motor diutamakan daripada pembangunan transportasi publik dalam skala besar). Lagi pula, iklan ini menekan kita membuang barang bermanfaat yang sudah tidak “keren” dan membeli barang baru untuk menggantikannya.

Tidak semua produk bagus di bawah kapitalisme dikonsumsi oleh orang biasa. Kadang perusahaan memproduksi produk gratis daripada produk yang bertujuan untuk dijual di pasar, yang berakibat harga-harga jatuh dan resesi. Solusi para juragan adalah menghancurkan persediaan barang-barang “berlebih”, daripada mendistribusikannya pada orang yang membutuhkannya. Di tahun 1991 ada 200 juta ton gandum di seluruh dunia ditimbun untuk mempertahankan harga. 3 juta ton bahkan bisa menghilangkan bencana kelaparan di Afrika pada tahun itu – dan sekarang situasinya tidaklah berbeda, dengan hampir setengah bahan pangan di dunia telah dibuang sia-sia tiap tahun.

Negara

Dalam masyarakat kapitalis, sukses maupun gagalnya negara tergantung pada suksesnya kapitalisme di dalamnya. Maka mengutamakan kepentingan profit dan pertumbuhan ekonomi adalah kunci utama semua negara dalam peradaban kapitalis. Baca keterangan kami untuk Negara.

Negara sama sekali tidak ingin memaksakan undang-undang perlindungan lingkungan hidup yang kuat terhadap perusahaan karena hal itu akan berdampak pada pemotongan profit mereka (dan juga pembayaran pajak) (penj: lihat saja bagaimana perusahaan kelapa sawit di Indonesia yang kebal hukum meskipun mengakibatkan kabut asap parah tiap tahunnya).

Fyi, seringkali mereka takut bahwa undang-undang perlindungan lingkungan hidup yang kuat akan membuat sebuah Negara menjadi ‘tidak bagus untuk investasi’. Contohnya, di tahun 1992, bisnis-bisnis besar Belanda mampu menghindari pajak polusi karbon yang diajukan pada mereka dengan mengancam akan memindahkan pabrik mereka ke negeri lain.

Lingkungan hidup tidak akan terselamatkan dengan bergantung pada negara, atau memilih sebuah ‘Partai Hijau’ di pemilu. Partai-partai hijau, seperti semua partai oposisi lain, mereka selalu terdengar radikal dalam posisi oposisi tetapi bertingkah seperti partai lainnya bila sudah berkuasa. Di Jerman pada tahun 2001, partai hijau adalah bagian dari pemerintah dan mengutuk protes yang menolak pemindahan limbah nuklir dan ikut bertanggung jawab dalam memobilisasi 17,000 polisi melawan protes masyarakat.

Di tahun 2007, Partai Hijau Irlandia, yang mendukung kampanye ‘Shell to Sea’ menolak ekstraksi gas alam di barat laut Irlandia, telah berkuasa. Mereka kemudian merubah pendiriannya, salah satu senior politikus Hijau mengawal proyek tersebut saat menjabat di pemerintahan.

Kelas

Pada umumnya sudah bisa dipastikan bahwa krisis lingkungan berdampak pada seluruh orang, dan mengancam kehidupan umat manusia.

Meskipun krisis lingkungan ancaman global, kelas pekerja adalah masyarakat yang paling kena dampak sangat parah. Kita satu-satunya yang memiliki pekerjaan berbahaya yang mengakibatkan degradasi lingkungan dan hidup di area yang rusak karena polusi, sementara itu orang-orang yang memiliki uang mampu pindah kemana saja.

Sementara dalam jangka panjang krisis lingkungan global bisa berdampak pada semua orang, tidak semua orang segera berbagi kepentingan bersama untuk membendungnya: para juragan dan Negara mengambil keuntungan dari proses yang menghancurkan lingkungan. Hanya kelas pekerja yang memiliki kepentingan langsung sekarang dalam membentengi lingkungan.

Debat usang antara ‘pekerjaan’ vs ‘lingkungan’ harus ditolak. Karena pertama, bagi orang-orang yang bekerja di industri yang menghancurkan lingkungan seringkali hidup di kota yang sama di tempat dimana dihancurkan oleh industri itu. Jadi kesehatan mereka, juga kesehatan teman-teman dan keluarga mereka, jadi taruhannya, berlaku bagi yang bekerja maupun yang diam di rumah.

Dan yang kedua, karena Negara dan juragan penuh kepalsuan. Ketika mereka bisa menghasilkan keuntungan, mereka akan memainkan aspek lingkungan, mengatakan bahwa hal itu harus kita urus. Dan ketika sudah berhenti keuntungan mereka dan sudah tak lagi menjadi bagian penting ekonomi, mereka akan menutupnya, dan berkata bagaimana buruknya hal itu bagi lingkungan dan melempar semua orang ke jalan, seperti yang kita lihat pada ILVA steelworks di Italia.

Bagaimana memecahkan masalah ini?

Karena kapitalisme dari sananya sudah menjadi sistem yang destruktif, pada dasarnya cara yang paling nyata untuk menghentikan krisis lingkungan adalah untuk membangun peradaban masyarakat baru berdasarkan pada kebutuhan manusia dan bukan berdasarkan profit saja.

Namun ini bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan pada saat ini. Krisis lingkungan disebabkan oleh kapitalisme dan kita harus menghadapinya dengan menentangnya. Dan karena Negara adalah bagian dari sistem ini, hanya aksi massa yang berasal dari akar-rumput yang bisa menjadi metode efektif untuk melakukannya.

Untuk melakukan hal ini, para pemerhati lingkungan harus berkaitan dengan keseharian dari kelas kita. Karena hal ini pula kita memandang hampir tak ada manfaatnya bila pemerhati lingkungan terpisah dari perjuangan kelas.

Di tempat kerja

Karena orang biasa lah yang membuat kesejahteraan di masyarakat, para pekerja mampu dengan melakukan aksi di tengah proses produksi, untuk menyerang para juragan dengan senjata paling kuat.

Karena sebagian besar kerusakan lingkungan datang dari industri dan karena para pekerja dan masyarakat kita adalah korban utama dari polusi ini, perjuangan pekerja untuk mendapatkan kesehatan dan keamanan sering kali menjadi hal pertama untuk membentengi lingkungan hidup.

Dengan mengawasi kerusakan lingkungan juga adalah bagian dari kesehatan dan keamanan kita dan harus kita kaitkan dengan perjuangan untuk kondisi kerja lebih baik, terutama kesehatan kita (saat kerja maupun tidak) dan kondisi lingkungan. Kita bisa mengekspos bagaimana industri menggunakan zat beracun, meminta industri untuk menggunakan barang yang mudah di daur-ulang dan mencari produk alternatif dari produk yang bisa menghancurkan lingkungan.

Dengan kekuatan yang cukup di tempat kerja, para pekerja bahkan bisa melindungi lingkungan dari polusi industri. Contohnya, pada 1970an, pekerja konstruksi Australia mengadakan ‘green bans’ (aksi mogok untuk tujuan lingkungan) dimana para pekerja menolak bekerja untuk proyek yang bisa menghancurkan lingkungan.

Di dalam masyarakat

Sebagian besar kelas pekerja yang peduli lingkungan, hidup di antara masyarakat, seperti saat berkampanye untuk transportasi umum yang lebih baik sehingga bisa mengurangi ketergantungan individu terhadap kendaraan pribadi.

Bisa juga hadir dalam bentuk menghentikan proyek perusakan lingkungan yang akan dibangun dan dirancang. Contohnya, di Inggris pada awal 1990an, protes menolak pembangunan jalan terjadi di berbagai daerah. Meskipun kalah dalam dukungan dari masyarakat di tahun 1995, 300 jalan yang direncanakan menggusur lingkungan alam yang asri dan perumahan masyarakat telah dibatalkan.

Pada tahun 2012, masyarakat di Shifang, China bagian barat, memaksa pemerintah untuk membatalkan pabrik besar pencampuran tembaga yang dikhawatirkan akan berdampak pada polusi serius dan masalah kesehatan. Dan di Italia hari ini banyak contoh perjuangan kelas pekerja terhadap lingkungan, seperti gerakan No TAV, yang berjuang melawan konstruksi jaringan rel kecepatan tinggi yang melewati gunung Piedmont, juga diikuti sebagian besar masyarakat menggunakan aksi langsung dalam perjuangan mereka untuk mempertahankan hidupnya.

Kesimpulan

Penghancuran lingkungan hidup juga penghancuran besar-besaran terhadap bumi, mengancam eksistensi seluruh spesies, termasuk diri kita manusia. Namun ini bukanlah akibat dari salah perorangan, tetapi terletak pada bagaimana sistem di masyarakat terorganisir.

Perusahaan-perusahaan memperbanyak keuntungan/profit tanpa khawatir terhadap lingkungan hidup, sementara pemerintah mendorong investasi ketika mereka tak mencoba memberlakukan peraturan yang ketat.

Sebagai hasilnya, tergantung pada kelas pekerja untuk membentengi lingkungan karena kitalah yang berkepentingan langsung untuk melindunginya. Dan sementara kita bisa menggunakan aksi langsung untuk melawan kehancuran lingkungan, namun yang paling penting kita harus menggunakan kekuatan kolektif kita untuk membangun dunia baru, yang bukan berdasarkan memperbanyak keuntungan/profit terus-menerus tetapi untuk mencukupi kebutuhan manusia; termasuk membuat lingkungan menjadi bersih dan menyehatkan.

Informasi lanjut

  1. Ecology and class: where there’s brass, there’s muck – Anarchist Federation – sebuah pamflet yang menerangkan krisis ekologi yang kita hadapi hari ini, apa yang telah dilakukan terhadapnya dan aturan detail dalam pandangan libertarian komunis terhadap imajinasi dunia yang sustainable secara ekologis.
  2. Social Ecology versus Deep Ecology: A Challenge for the Ecology Movement – Murray Bookchin – kritik Murray Bookchin terhadap ahli ekologi yang ‘mistik’ dan kontribusinya terhadap pembentukan kelas pekerja yang pro-lingkungan.
  3. Climate change and capitalist growth – Joseph Kay – lihat apakah kapitalisme ternyata benar-benar gagal dalam mengontrol perubahan lingkungan, dan usaha apa saja yang kapitalis lakukan untuk menyelamatkan lingkungan (dan efeknya).
  4. Nature, Neoliberalism and Sustainable Development: Between Charybdis and Scylla – Harry Cleaver – sebuah usaha marxis otonomis terhadap dampak pembangunan kapitalis terhadap lingkungan.
  5. The politics of anti-road struggle and the struggles of anti-road politics – the case of the No M11 link road campaign – Aufheben – 
  6. Artikel in-depth yang fantastis dalam gerakan anti-roads di Inggris era 1990an.
  7. 1971-1974: Green bans by builders in Australia – sejarah kampanye besar melawan dampak proyek industri oleh para pekerja konstruksi yang melindungi lingkungan dan masyarakat lokal yang bekerja pada proyek konstruksi yang berbahaya.

Diterjemahkan oleh Jojoz dari artikel libcom.org, Enviromental: an introduction

​Tadarus Literasi: Menyampaikan Kegelisahan

Saya pernah menyampaikan kritik pada gerakan budaya kaum muda urban Jombang. Namun setelah mengikuti acara Tadarus Literasi, saya sepertinya berubah pikiran. Sepertinya kritik ini tidak tepat untuk mereka, namun lebih tepat ditujukan pada gerakan sosial yang ada di Jombang. kritiknya bisa dilihat di sini

Acara diskusi yang berlangsung hingga tengah malam hari pada Rabu (21/6) membuka tempat bagi para pegiat seni di lingkungan Jombang untuk merefleksikan dan memutuskan bagaimana masa depan skena seni di Jombang.

Moderator menyampaikan pemaparan soal bagaimana rencana Pemda Jombang untuk mengembangkan potensi ekonomi berbasis budaya. Dewan Kesenian Jombang dan Lesbumi (organisasi budaya yang berafiliasi dengan NU) berencana membuka kesempatan bagi para seniman untuk menyampaikan desain pemberdayaan desa. Dari situ pihak panitia akan membuat sebuah proposal yang akan dipaparkan kepada para investor di Jakarta (anjir saya aja langsung alergi ketika mendengarnya, apalagi pas nulisnya).

Ada pula yang menyampaikan bagaimana relasi antara seniman generasi muda dan tua yang sama-sama perlu diapresiasi dan juga dihormati.

Soal kebutuhan akan tempat apresiasi seperti gedung kesenian juga disinggung beberapa kali. Apalagi tidak semua orang berbaik hati meminjamkan tempatnya dengan rutin, selama ini acara kesenian bersifat temporer dan sporadis. Penulis jadi mengingat acara musik Underground di Jombang sendiri harus terhenti karena gedung Juang yang selama ini mereka pakai, tidak memperoleh ijin lagi untuk memakainya.

Sampai ada yang menyampaikan kritik keras pada Pemda yang terlihat tidak serius untuk memperhatikan soal budaya. Apalagi disebutkan pula contoh kasus bagaimana acara budaya yang diwajibkan oleh Pemda Jawa timur kepada seluruh kabupaten setiap tahun, Pemda Jombang bukannya mengirimkan seniman yang berkarya selama ini di daerahnya malah mengirimkan PNS yang ‘macak’ seniman. Ini berakibat anggaran dana hanya berputar-putar di situ saja, tidak dirasakan oleh masyarakat.

Dari generasi yang lebih muda juga menyampaikan kebingungan dan kegelisahan mereka tentang barometer bagaimana Jombang bisa disebut sebagai kota budaya.

Metode pendekatan pada stakeholder juga sempat dibahas. Sementara ini cara-cara seperti mendapat power terlebih dahulu sebelum melakukan pembenahan yang perlu atau usaha-usaha untuk pendekatan tersendiri pada stakeholder sering dilakukan.

Yang mengesankan penulis mungkin bintang tamu seorang artist asal Madiun. Ia menyampaikan pendapatnya yang menolak untuk berharap pada bantuan penguasa (anjir saya langsung menempelkan julukan born to be Anarchist yang rajin ibadah). Mencontohkan pada usaha-usaha mandirinya, yang mengatur antara kerja-kerja untuk bertahan hidup (ia membuka les biola) dan kerja-kerja untuk budaya (menciptakan lagu dan menulis puisi). Penulis sangat mengapresiasi pendapat ini, bahkan identik dengan budaya kelas pekerja dan petani, bagaimana kerja-kerja budaya dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomis, tetapi sebagai usaha timbal balik pada masyarakat yang memberinya pemenuhan kebutuhan ekonomis itu tadi (lihat Yab Saporte, ARTJOG, RUANG SENI DI ERA KAPITALISME INDUSTRIAL, DAN FRAGMEN RUANG SENI ALTERNATIF

Yang kedua adalah bagaimana peran penting media sebagai pengarsipan dan juga memberikan berita pada masyarakat bahwa eksistensi seni dan budaya di Jombang itu ada. Maka sang artist menyarankan agar tiap eksistensi kesenian yang ada di Jombang, dari yang lawas sampai yang baru aktif itu ditulis dan diberitakan (hal yang malah memotivasi saya agar menulis tentang Jombang lebih giat lagi).[]

​Union: an introduction (Bahasa Indonesia)

Sebuah pengenalan singkat mengenai serikat buruh, fungsi mereka dalam masyarakat dan menurut kami di libcom.org sebagai pekerja kita harus dekat dengan mereka. 
Bagi banyak orang, serikat adalah sebuah organisasi pekerja yang dibuat untuk melindungi dan memperbaiki nasib anggotanya dengan membawa isu seperti upah, dana pensiun dan manfaat lainnya.

Hal ini tepat, namun sangat jelas jauh dari aslinya.

Banyak yang tidak disebutkan seperti sisi lain dari serikat buruh: deal-deal di belakang, pemotongan upah yang dirayakan sebagai “kemenangan”, mogok-mogok diberhentikan paksa, menunda-nunda negoisasi menjadi tak pernah berakhir, para anggota juga diperintah untuk membubarkan mogok oleh serikat lain, aktivis serikat didisiplinkan oleh serikatnya sendiri…

Berkali-kali pimpinan serikat – bahkan yang sayap kiri sekalipun – mengecewakan kita. Dan seperti para politikus, setiap hal yang mereka lakukan, selalu ada orang lain yang membujuk kita di lain waktu bahwa lebih baik bila kita memilih mereka dalam pemilu.

Namun masalahnya lebih dalam dari hanya sekedar memilih orang yang salah pada pucuk pimpinan.

Birokrasi

Serikat yang berukuran besar menggaji para pengurusnya, dan terstruktur layaknya perusahaan. Mereka memiliki 6 orang yang digaji seperti eksekutif, menunjuk manajer yang memaksakan keputusan dari atas dan jenjang karir ke partai politik sosial demokrasi, lembaga think-thanks, dan departemen pemerintah.

Di pabrik dan tempat kerja lainnya serikat diurus harian oleh pekerja yang sukarela untuk mengorganisir, dan seringkali sendirian menghadapi masalah-masalah yang mereka hadapi. Bagaimanapun, anggota serikat dan orang-orang yang berada pada posisi terbawah dalam serikat seringkali ber-konflik dengan birokrasi-berbayarnya serikat.

Ini karena jabatan dan hirarki birokrasi serikat sangat berbeda dengan kepentingan orang-orang yang bekerja dan mengurus serikat harian. Pimpinan serikat harus naik ke atas untuk melegalisir para kelompok pekerja yang ingin berjuang untuk kepentingan mereka. Ini karena pekerjaan mereka dan posisi politik mereka tergantung pada legalisasi ini untuk bisa lanjut. Jadi mendukung setiap aksi beresiko membahayakan serikat – seperti aksi mogok yang tak resmi (wildcat) – bukanlah aksi utama bagi pimpinan serikat.

Dalam level regional maupun lokal, para pengurus penuh-waktu-bergaji itu tidak memiliki kepentingan yang sama dengan para anggotanya. Letak salahnya bukan pada pemikiran dan perhatian mereka (kebanyakan pengurus penuh-waktu-bergaji adalah mantan militan di tempat kerja mereka yang ingin menolong para pekerja mengorganisir di luar tempat mereka sendiri), tetapi ini semua salah kepentingan material mereka. Sebuah kemenangan bagi para pekerja adalah lebih banyak uang, istirahat yang panjang, benefitnya lebih baik. Kemenangan untuk para pengurus penuh-waktu-bergaji adalah sebuah kesempatan bernegosiasi dalam satu meja bersama manajemen, jadi para pekerja akan melanjutkan membayar iuran keanggotaan pada serikat.

Pekerja biasa atau para penjaga toko – seringkali terdapat banyak pekerja militan – sangat rawan posisinya. Tidak seperti para pengurus penuh-waktu-bergaji, mereka masih bekerja di ujung tombak produksi dan dibayar seperti para pekerja lain. Jika juragan memotong upah, maka upah mereka akan dipotong juga. Dan sebagai seorang militan, mereka bisa dikucilkan oleh para juragan mereka.

Bagaimanapun, mereka harus menyeimbangkan antara kepentingan ujung tombak produksi dan kepentingan birokrasi serikat. Misalnya, para militan akan kena marah apabila induk serikatnya mendukung pekerja untuk menerima pemotongan upah, tapi ia tetap harus mempertahankan para pekerja agar tidak meninggalkan serikat. Jika para militan ini lebih mementingkan kepentingan pekerja daripada birokrasi serikat, mereka akan diserang oleh para juragan mereka maupun induk serikatnya sendiri.

Sejarah

Banyak masalah serikat muncul sejak mereka dibentuk pertama kali. Meskipun masalah lainnya timbul akibat hasil perubahan dari masyarakat kapitalis pada saat itu. Awalnya, serikat buruh adalah ilegal, dan setiap pengorganisiran selalu dilawan dengan represi dari para juragan dan pemerintah. Militan serikat pada awalnya seringkali dipenjara, dibuang dan bahkan dibunuh.

Namun ketika pekerja terus menerus mogok dan melawan segala represi tadi dan berhasil dengan kemenangan besar untuk memperbaiki kondisi mereka, juragan dan pemerintah menyadari bahwa demi kepentingan mereka sendiri maka serikat harus dilegalkan, dan memberi mereka kesempatan bicara di depan para ahli departemen ekonomi.

Dengan cara ini, konflik terbuka antara para juragan dan pekerja bisa diminimalisir, dan keinginan sebenarnya dari pekerja akan dibatasi drastis dengan membuat sebuah struktur legal yang rumit dengan memilih “perwakilan” resmi yang akan menyuarakan kepentingan kita para pekerja. Begitu juga bila menyuarakan kepentingan kita harus melewati regulasi yang dibatasi oleh Negara.

Proses ini telah berlangsung dengan berbagai cara di berbagai Negara dan dalam berbagai peristiwa sejarah, dan hasilnya sama. Di banyak negara Barat kita bisa ikut serikat dengan bebas namun berbagai aksi yang kita lakukan mempertahankan diri kita dari para juragan dibatasi oleh jaring undang-undang industrial. Tembok besar telah ditempatkan di tengah-tengah aksi mogok, khususnya melarang setiap aksi yang tak sesuai dengan peraturan serikat dan juga aksi-aksi solidaritas. Serikat harus memaksakan undang-undang anti-pekerja ini pada anggotanya sendiri, jika tidak mereka akan mendapat denda uang dan penyitaan aset, oleh karena itu mereka berusaha menghentikannya.

Lagi pula, sekali serikat menerima ekonomi kapitalis, kepentingan institusi mereka jadi terikat pada ekonomi nasional, sejak kemampuan ekonomi nasional menjadi prospek serikat dalam tawar menawar bersama. Mereka menginginkan kapitalisme yang sehat di dalam negeri untuk membuka lapangan pekerjaan sehingga mereka bisa membuat serikat dan mewakili para pekerja. Jangan kaget bila serikat buruh mendukung penurunan upah untuk menolong ekonomi nasional, seperti yang dilakukan British Trades Union Congress (TUC) pada 1970an, atau membantu pemerintah mereka memobilisasi kepentingan perang, seperti yang dilakukan serikat seluruh Eropa dalam Perang Dunia I, atau para militan US United Auto Workers (UAW) lakukan di Perang Dunia II, menandatangani petisi tidak melakukan pemogokan.

Menjual Kedamaian di Tempat Kerja

Satu hal yang sering direncanakan oleh banyak radikal dan anggota serikat sayap kiri/merah adalah ‘merebut serikat’ atau kadang-kadang membangun serikat baru tanpa birokrat sama sekali. Permasalahannya adalah, serikat tidak menjalankan fungsi seperti fungsi aslinya karena birokrasi; para birokrat itulah yang terbentuk oleh fungsi serikat di tempat kerja.

Peran serikat sangat rawan: pada akhirnya, mereka menjual diri mereka, pada dua kelompok yang memiliki kepentingan yang berlawanan (contoh juragan dan pekerja).

Untuk menjual dirinya pada para pekerja, mereka harus menunjukkan manfaatnya bergabung menjadi anggota serikat. Kadang ini berarti mereka bisa membantu kita memaksa manajemen untuk mempertahankan dan memperbaiki kondisi kita, khususnya bila mereka mencoba mendapatkan pengakuan dan dukungan di tempat kerja untuk kali pertama.

Selama merayu kita untuk menjadi anggota, mereka menunjukkan pada manajemen bahwa mereka adalah perwakilan utama dari pekerja. Tetapi di saat yang sama mereka juga menunjukkan bahwa mereka adalah partner negoisasi yang bertanggung jawab.

Manajemen perlu tahu bahwa sekali perjanjian disetujui bersama, serikat harus memaksa anggotanya untuk kembali bekerja. Sebaliknya, kenapa manajemen harus membuat perjanjian dengan orang yang tidak bisa menghormati kesepakatan perjanjian?

Hal ini didasari oleh kepentingan untuk diakui oleh para partner negoisasi mereka seperti manajer dan juragan perusahaan yang akibatnya membuat para pimpinan serikat malah melawan para anggotanya. Dengan begini mereka menunjukkan dirinya di depan manajemen perusahaan bahwa mereka tidak boleh tidak bisa mengontrol para anggota mereka. Inilah mengapa di Inggris (UK) pada tahun 2001 para tukang negoisasi serikat bersama-sama menyebut para petinggi grup pekerja tukang listrik sebagai “kanker” seperti yang terjadi pada 1947 pengurus serikat pekerja tambang melaporkan mogok spontan (wildcat) pekerja tambang ke ranah hukum “meskipun bila di sana ada 50,000 sampai 100,000 orang yang mogok”. Hal yang sama juga terjadi di puncak pergerakan serikat pekerja di Amrik (US) pada tahun 1940an dan 1970an, serikat pekerja UAW memaksa para anggotanya untuk disiplin dan memecat para anggotanya bila kedapatan mengadakan mogok yang tak resmi.

Jadi ketika serikat pekerja ‘menjual kita’ ini bukan karena mereka ‘tidak menjalankan tugasnya dengan baik’. Di sisi para pekerja (kita) mereka sangat jahat, tetapi di sisi satunya mereka melakukan tugasnya dengan sangat baik! Intinya, mereka harus mengontrol perjuangan kita demi untuk menjadi representasi kita. Dan inilah mengapa usaha so-called “revolusioner kiri” dalam 100 tahun terakhir untuk “meradikalisasi” serikat dengan memilih pengurus yang tepat dan mengesahkan rancangan undang-undang yang tepat pula berakhir di jalan buntu. Tentu saja, usaha mereka meradikalkan serikat malah terjadi sebaliknya, struktur serikat malah membuat revolusioner ter-deradikalisasi.

Serikat-serikat pekerja yang melawan sistem ini dan menolak untuk memakai sistem representatif seperti ini, seperti IWW dalam sejarah di Amrik (USA), FORA versi lawas di Argentina dan CNT versi modern di Spanyol. Penolakan ini membuat mereka kehilangan banyak anggota atau mendapat represi dari negara, bahkan keduanya.

Kebanyakan serikat pekerja mengambil jalan yang mudah, membantu menjamin perdamaian dengan bayaran iuran kita di tempat kerja. Mereka menendang masalah kita jauh ke tembok prosedur yang rumit, berkas yang berbelit dan negoisasi di belakang pintu. Dan para pekerja malah menyukainya. Sebagai seorang manajer pada sebuah perusahaan multinasional di Afrika Selatan pernah sekali menyebutkan ketika ditanya mengapa perusahaannya membolehkan serikat pekerja: “Pernahkah kalian mencoba bernegosiasi dengan lapangan sepakbola yang penuh dengan pekerja militan yang sangat marah?”

Sesuai dengan tujuan?

Sejak 1980an, kita melihat serangan besar ke kondisi pekerja dan perubahan drastis pada pasar kerja. Pekerja kasual, temporer dan penyedia tenaga kerja telah berjamuran dimana-mana, dengan para pekerjanya yang berganti-ganti pekerjaan secara reguler. Di Barat, sebagian besar gerakan serikat pekerja dalam industri tradisional telah berakhir dan telah digantikan dengan hal-hal yang kurang terorganisir seperti ritel, layanan kesehatan dan sektor layanan lainnya.

Realitas baru ini melemahkan gerakan serikat pekerja tradisional, seperti misalnya saat membangun cabang serikat yang fokus pada keanggotaan menjadi lebih sulit. Namun, daripada mencoba mempertahankan anggota dengan membantu para militan mengorganisir tempat kerja, mereka malah menyatukan berbagai serikat pekerja (NALGO, NUPE dan COHSE menjadi Unison, TGWU dan Amicus menjadi Unite di Inggris (UK) agar bisa mendapatkan kartu diskon di supermarket dan asuransi murah untuk para anggotanya.

Pada saat yang sama, pasar kerja internasional juga melemahkan pengurus serikat pekerja. Pekerja bisa bekerja di sebuah negara dan di saat yang sama bekerja di perusahaan lain, dan perusahaan juga bisa memindahkan pabrik dan kantornya dimana terdapat tenaga kerja lebih murah.

Singkatnya, di tahun 2011, para pekerja FIAT di Italia dipaksa oleh serikatnya untuk menerima kontrak yang merugikan di bawah ancaman pabrik yang akan dipindahkan ke Polandia. Tetapi di sisi lain para pekerja Polandia berjuang untuk melawan FIAT. Namun di negara lain serikat pekerja mencoba untuk membuat jaringan internasional diantara pekerja.

Melawan peraturan bersama.

Meski fungsi representatif mereka membuat perundingan dengan birokrasi serikat pekerja sangat lambat dan membuat para militan tak betah, perubahan-perubahan pada pasar kerja ini kurang lebihnya menjadi tak relevan pada banyak pekerja non-serikat.

Ketika percekcokan industrial datang, para pekerja non-serikat merasa mereka tak bisa membantu banyak meskipun di satu sisi pemogokan-pemogokan membuat mereka merasa seperti melakukan ritual aksi pemogokan resmi: manajemen mendorong penawaran yang buruk, serikat pun ‘marah’ dan memerintahkan untuk mogok satu hari (kadang beberapa hari), negoisasi dimulai kembali dan mogok dihentikan, manajemen kembali dengan penawaran yang hampir tidak ada bedanya dan bos serikat mendeklarasikan kemenangan dan mengumumkannya pada para anggotanya.

Namun tidak selamanya seperti ini. Hal yang terpenting – apakah kita adalah anggota serikat maupun tidak – adalah kita berjuang dengan keras melawan pengurus serikat dan undang-undang perburuhan yang terbatas. Daripada memilih representatif yang berbeda atau memberi mosi saat rapat serikat cabang yang basi, kita harus berorganisasi dengan para kawan-kawan pekerja kita untuk menolak peraturan mereka dan menjalankan peraturan kita sendiri:

  • Rapat pada tingkat pabrik/tempat kerja harus terbuka untuk seluruh pekerja, tidak tergantung pekerjaan apa yang mereka lakukan, dimana serikat pekerja mereka bernaung (bila ada) atau kontrak apa yang mereka jalani.
  • Kita harus menghormati jam piket kerja/shift satu sama lain. Terlalu sering para pekerja yang melakukan mogok hanya untuk memandangi kolega mereka di serikat lain yang masih pergi bekerja. Hal ini membuat pemogokan kita melemah dan hanya dengan bersama-sama kita bisa menutup pabrik/tempat kerja dan meninju juragan kita. Seperti para supir truk Shell memenangkan inflasi dengan kenaikan upah di tahun 2008 ketika supir-supir lainnya dari perusahaan lain menolak untuk merubah jam piket/shift mereka. Pada tahun yang sama NUT dan Unison melewati jam piket mereka dalam edukasi, dan keduanya memenangkan konsesi yang signifikan.
  • Kita mengandalkan aksi langsung dan kekuatan kolektif untuk mendapatkan apa yang kita mau, meskipun aksi kita dilindungi oleh undang-undang perhubungan industri atau tidak. Pada tahun 2008, para pekerja kebersihan melawan balik penindasan yang dilakukan manajemen, lalu memenangkannya setelah melakukan kurang lebih 2 hari aksi wildcat. Aksi wildcat selanjutnya memutuskan mereka melakukan mogok dengan dan tanpa perlindungan pengurus serikat. Jadi pada tahun 2009 ketika manajemen mencoba untuk memotong upah mereka menjadi sekitar £8000 (per tahun/per pekerja), mereka memaksa manajemen untuk mengembalikan upah mereka sedia kala setelah 2 hari keputusan itu diambil lalu dilanjutkan dengan mogok selama berminggu-minggu dengan resmi.
  • Pemogokan perlu dikabarkan ke seluruh orang. Seringkali permasalahan yang dihadapi tidak hanya berpengaruh pada satu tempat kerja/pabrik namun juga berpengaruh pada keseluruhan industri. Kita harus membangun jaringan antara tempat kerja kita dan tempat kerja lain jadi kita bisa mendukung satu sama lain. Pada tahun 2009, ketika perusahaan minyak Total mencoba mem-PHK 51 pekerjanya, semua orang keluar untuk mendukung pekerja tersebut. Total membalas dengan memecat lebih dari 600 pekerjanya karena dianggap melakukan aksi tak resmi. Tapi bagaimanapun pemogokan telah menyebar ke industri energi dan dalam empat malam semua orang mendapatkan kembali pekerjaannya.
  • Solidaritas harus menembus lingkaran internasional. Daripada menyalahkan para imigran yang mendapat pekerjaan dan pemotongan upah, atau pekerja negara lain ketika pabrik-pabrik pindah ke negara lain, kita harus mendukung para pekerja migran dan pekerja lain di negara-negara lainnya yang berjuang untuk memperbaiki upah dan kondisi mereka. Hal ini tidak hanya menguntungkan mereka secara langsung namun juga berarti para juragan tidak akan memakai mereka sebagai alasan untuk memotong upah para pekerja pribumi.

Semua ini bukanlah pemikiran baru. Namun semua ini telah dilakukan oleh para pekerja – berserikat atau tidak – dalam sejarah, dan seringkali berujung pada konflik, tidak hanya kepada juragan-juragan mereka tetapi juga dengan birokrasi serikat mereka.

Kesimpulan

Kita sering melihat serikat sebagai organisasi yang memberikan kita kekuatan. Dan sebenarnya itu hal yang tepat sekali. Tapi apa yang kita tak ketahui adalah (atau tidak melakukan tindakan terhadapnya) adalah kekuatan yang serikat berikan adalah sebenarnya hanyalah kekuatan kita yang disalurkan lewat mereka – yang kemudian dibatasi oleh struktur serikat.

Ini hanyalah masalah kita tak tahu hal-hal seperti ini dan berjuang dengan tangan kita sendiri – dengan tak menghiraukan perpecahan serikat dan tak mengambil jam piket/shift pekerja lain, tak menunggu serikat ketika kita akan beraksi, juga aksi-aksi seperti okupasi/pengambil-alihan, go slow/bekerja dengan lambat dan sabotase – yang menjadi kekuatan kita sebenarnya dan mulai memenangkannya.

Bacaan lanjut

  • Unions – reading guide – reading guide dari libcom.org tentang serikat pekerja dan peran mereka dalam masyarakat modern.
  • Workplace organising – sejumlah tips dan petunjuk untuk mengorganisir tempat kerjamu. Dari prinsip dasar dan cara memulai, membuat kebutuhan, mengadakan aksi-aksi seperti pemogokan dan memenangkan tuntutan.
  • Workplace activity – bagian situs dari libcom.org dipenuhi dengan cerita-cerita personal dalam mengadakan aksi di tempat kerja dan pelajaran berharga dari situ.
  • The Origins of The union shop – Tom Wetzel – artikel tentang keterbatasan toko tertutup serikat dan bagaimana hal ini menolong serikat sebagai alat untuk berdisiplin pekerja daripada hanya melindungi kepentingan mereka.
  • Organized Labor versus “The Revolt Against Work” – John Zerzan – artikel bagus yang menjelaskan bagaimana serikat pekerja sering berpartisipasi dalam mengeksploitasi pekerja, memfokuskan pada industri mobil Amrik pada 1930an sampai 1970an (penulisnya kemudian dalam hidupnya menulis banyak hal yang buruk, tapi kami yakin tulisan ini bagus).
  • Institutionalization from below: The unions and social movements in 1970s Italy – Robert Lumley – salah satu bab dari buku Robert Lumley yang menceritakan perjuangan rakyat di Italia sekitar tahun 1960-70an menjelaskan bagaimana serikat mendapatkan kontrol dalam gerakan sosial dan mengarahkannya pada politik representasi.
  • 1970-1972: The Lordstown struggle and the real crisis in production – Ken Weller – pamflet yang menarik tentang perjuangan pekerja melawan kondisi kerja di pabrik General Motors, yang dikooptasi oleh serikat pekerja Otonom.
  • Wildcat: Dodge Truck June 1974 – artikel lengkap yang ditulis oleh peserta dan laporan penglihatan tentang aksi pemogokan wildcat di pabrik truk Chrysler, Michigan pada tahun 1974 dan peran pekerja, serikat dan aktivis kiri.

Diterjemahkan oleh Jojoz dari Union: an introduction oleh libcom.org

​Komentar untuk Filosofi Kopi (2015)

Yang perlu digarisbawahi sih ini komentar subjektif dan asal-asalan lol.

Kesan pertama jelas perayaan masturbasi para coffee geeks. Bisa dilihat dari bagaimana dialog yang digunakan Ben dalam menerangkan proses pembuatan kopi dengan memakai bahasa yang sulit dimengerti oleh awam.

Kedua, perlu diapresiasi sih upaya untuk memasukkan isu konflik agraria (yang tengah memanas dalam beberapa tahun terakhir) ke dalam plot film (dalam hal ini “Perang Sawit”). Tapi memasukkan isu seperti ini resikonya bisa membuat plot terasa dipaksakan, tapi Alhamdulillah lumayan bisa nyambung lah. Jadi ceritanya pembentukan karakter Ben yang keras tidak terlepas dari masa lalunya. (Sori spoiler) jadi ayahnya si Ben dan masyarakat petani ini pernah menghadang anjing-anjing penjaga kapital alias aparat negara alias tukang pentung negara. Kemudian ibunya si Ben mendadak meninggal tanpa ada penjelasan kenapa (di akhir cerita dijelaskan kalau ibu Ben tewas dibunuh sebagai bentuk teror kekerasan negara, meski secara tidak eksplisit disebutkan). Dan akhirnya kita tau kalau Ben juga terancam dibunuh pula jika ayah Ben tidak mau menghentikan perjuangannya mempertahankan tanah. Hingga akhirnya menjawab kenapa Ben terasa terbuang oleh keluarganya. Cukup nyambung bukan?  

Ketiga, lembaran filosofi kopi sebagai gimmick andalan kedai tempat Ben bekerja sungguh sangat tidak relevan dengan filosofi sebagai ilmu yang selama ini saya berusaha pelajari. Entah mungkin bakal diketawain mahasiswa filsafat atau tidak, tapi menurutku lembaran tulis yang dibagikan kepada konsumen kedai (mereka sebut dengan filosofi kopi) lebih mengarah pada sastra timbang filosofi yang lebih mempertanyakan segala sesuatunya.

Keempat, yang saya suka dari film ini sebenarnya banyaknya dialog dan adegan debat yang berujung konflik antar karakter. Mungkin bakal jadi terasa tidak menyenangkan namun di situlah keseruan sebuah drama. Dan soundtrack-nya cukup bagus lah.

Kelima, pada satu adegan konflik antara Ben dan Jodi, saya sempat terperangkap pada gambaran konflik kelas. Ben yang mewakili kelas pekerja, Jodi yang mewakili kelas kapitalis dan El yang mewakili kelas intelektual liberal Orde baru. Sulit juga menjelaskan bagaimana karakter-karakter ini saling berkontradiksi dalam konflik kelas, karena keterbatasan pemahaman saya.

Keenam, membuat suami Nana kecelakaan dan uituh biaya operasi yang besar sebagai klimaks yang-mengubah-karakter-Ben-sedikit-melunak-itu sangat maksa dan kelihatan cheessy sekali hehe. Sekian.